Kamis, 17 Desember 2009
Catatan Awal Tahun Baru Hijriah 1431H
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[*], (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali,
[*]Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi sedangkan mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.
Al Quran surat An Nisaa ayat 97 ini duturunkan pada saat sekitar Rosululloh Muhammad saw. menerima perintah untuk berhijrah dari kota Mekah ke kota Yatsrib (Madinah). Pada waktu itu ada segolongan umat muslim yang tidak mau ikut berhijrah bersam Rosul saw. dan rombongannya walau mereka tetap berislam. Mereka memilih tetap tinggal di dalam Kota Mekah. Padahal pada waktu itu sedang terjadi konflik antara kaum muslim dengan kaum kafir Quraisy, bahkan sampai ada rencana kaum kafir Quraisy akan membunuh Rosululloh Muhammad saw. Mereka pun tetap besikeras untuk tetpa tinggal di kota Mekah.Sampai akhirnya mereka, yang tetap tinggal di kota Mekah dan tidak berhijrah bersama Rosul, terbunuh oleh kaum Quraisy yang ingin membunuh Rosul saw.
Ayat di atas ini menggambarkan bagaiman nasib mereka yang tidak mau mengikuti Rosul saw. untuk berhijrah ke Madinah untuk mengembangkan islam di tempat yang lebih aman. Saat setelah kematian mereka, mereka akan ditanyai oleh malaikat, dalam keadaan seperti apakah mereka mati. Walaupun mereka mengaku bahwa mereka adalah orang yang tertindas, tetapi bukankah sudah ada perintas untuk berhijrah ke tempat yang aman? Dan mengapa itu tidak mereka lakukan?
Bagi kita yang hidup di jaman sekarang dan sudah tidak ada lagi perintah untuk berhijrah secara fisik. Namun, kita masih tetap bisa menghindari nasib yang seperti di jelaskan di ayat tadi yang di ganjar dengan Jahannam, yaitu dengan berhijrah secara mental atau pemikiran.
Di momen tahun baru ini adalah saat yang tepat untuk berhijrah atau mengubah pemikiran kita yang dewasa ini sudah mulai lepas dari pemikiran yang islami. Pemikiran-pemikiran yang sekuler, kapitalis lebih merebak, lebih tertanam dalam budaya sehari-hari di Indonesia, yang notabene sebagian besar penduduknya adalah umat islam. Mulailah dari hari ini kita kembali pada pemikiran yang cemerlang, pada cahaya akidah islamiah., keluarlah dari kurangan kegelapan pemikiran kapitalis dan saudara-saudaranya. Tidak ada kata terlambat selama naas masih berhembus.
***
Semoga catatan singkat ini bisa diambil manfaatnya oleh pembaca semua.
Segala kekurangan mohon dimaafkan!
Saya berharap para pembaca bisa bertukar pikiran dengan meninggalkan coment atau saran dan kritik pada catatan ini.
Terimakasih.
Wasssalammu'alaikum warrohmatulloh...
by The Fourth Kj, Paryadi
Minggu, 06 September 2009
Adab-adab berpuasa
Adab-Adab Berpuasa
Penulis: Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi
A. Makan Sahur Orang yang berpuasa sangat dianjurkan untuk makan sahur. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amru bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Perbedaan antara puasa kami dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim) Dari Salman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Berkah ada pada 3 hal: berjamaah, tsarid (roti remas yang direndam dalam kuah), dan makan sahur.” (HR. Ath-Thabrani, 6/251, dengan sanad yang hasan dengan penguatnya, lihat Shifat Shaum An-Nabi oleh Ali Al-Halabi, hal. 44) Disukai untuk mengakhirkan makan sahur berdasarkan hadits Anas dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian beliau bangkit menuju shalat. Aku (Anas) bertanya: “Berapa jarak antara adzan1 dan sahur?” Beliau menjawab: “Kadarnya (seperti orang membaca) 50 ayat.” (Muttafaqun ‘alaih) Namun apa yang diistilahkan oleh kebanyakan kaum muslimin dengan istilah imsak, yaitu menahan (tidak makan) beberapa saat sebelum adzan Shubuh adalah perbuatan bid’ah karena dalam ajaran nabi shallallahu alaihi wasallam tidak ada imsak (menahan diri) kecuali bila adzan fajar dikumandangkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Apabila Bilal mengumandangkan adzan (pertama), maka (tetap) makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (Muttafaqun ‘alaih) Bahkan bagi orang yang ketika adzan dikumandangkan masih memegang gelas dan semisalnya untuk minum, diberikan rukhshah (keringanan) khusus baginya sehingga dia boleh meminumnya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Jika salah seorang kalian mendengar panggilan (adzan) sedangkan bejana (minumnya) ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkannya hingga menunaikan keinginannya dari bejana (tersebut).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah dalam Al-Jami’ Ash-Shahih, 2/418-419) Hukum makan sahur adalah sunnah muakkadah. Berkata Ibnul Mundzir: “Umat ini telah bersepakat bahwa makan sahur hukumnya sunnah dan tidak ada dosa bagi yang tidak melakukannya berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Makan sahurlah, karena sesungguhnya pada makan sahur itu ada barakahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Dianjurkan makan sahur dengan buah kurma jika ada, dan boleh dengan yang lain berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah buah kurma.” (HR. Abu Dawud, 2/2345, dan Ibnu Hibban, 8/3475, Al-Baihaqi, 4/236, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah) Jika seseorang ragu apakah fajar telah terbit atau belum, maka boleh dia makan dan minum sampai dia yakin bahwa fajar telah terbit. Firman Allah subhanallahu wata’ala:
“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar ….” (Al-Baqarah: 187)
Berkata As-Sa’di rahimahullah: “Padanya terdapat (dalil) bahwa jika (seseorang) makan dan semisalnya dalam keadaan ragu akan terbitnya fajar maka (yang demikian) tidak mengapa.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 87)
B. Berbuka Puasa Orang yang berpuasa dianjurkan untuk mempercepat berbuka jika memang telah masuk waktu berbuka. Tidak boleh menundanya meski ia merasa masih kuat untuk berpuasa. ‘Amr bin Maimun Al-Audi meriwayatkan:
“Para shahabat Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling cepat berbukanya dan paling lambat sahurnya.” (HR. Al-Baihaqi, 4/238, dan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menshahihkan sanadnya) Berkata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah: “Cepat-cepat berbuka puasa (dianjurkan) bila telah terbenam matahari, bukan karena adzan. Namun di waktu sekarang (banyak) manusia menyesuaikan adzan dengan jam-jam mereka. Maka bila matahari telah terbenam boleh bagi kalian berbuka walaupun muadzdzin belum mengumandangkan adzan.” (Asy-Syarh Al-Mumti’) Buka puasa dilakukan dalam keadaan ia mengetahui dengan yakin bahwa matahari telah terbenam. Hal ini bisa dilakukan dengan melihat di lautan dan semisalnya. Adapun hanya sekedar menduga dengan kegelapan dan semisalnya, maka bukan dalil atas terbenamnya matahari. Wallahu a’lam. Mempercepat buka puasa adalah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Senantiasa umatku berada di atas Sunnahku selama mereka tidak menunggu (munculnya) bintang ketika hendak berbuka.” (HR. Al-Hakim, 1/599, Ibnu Hibban, 8/3510, dengan sanad yang shahih. Lihat Shifat Shaum An-Nabi hal. 63) Mempercepat berbuka puasa akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Seperti yang diriwayatkan Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasa.” (HR. Al-Bukhari, 2/1856, dan Muslim, 2/1098) Mempercepat berbuka puasa adalah perbuatan menyelisihi Yahudi dan Nashara. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Senantiasa agama ini nampak jelas selama manusia mempercepat buka puasa karena Yahudi dan Nashara mengakhirkannya.” (HR. Abu Dawud, 2/2353, Ibnu Majah, 1/1698, An-Nasai dalam Al-Kubra, 2/253, dan Ibnu Hibban, 8/3503, dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah) Selain itu, mempercepat buka puasa termasuk akhlak kenabian. Sebagaimana dikatakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Tiga hal dari akhlak kenabian: mempercepat berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.” (HR. Ad-Daruquthni, 1/284, dan Al-Baihaqi, 2/29) Orang harus berbuka puasa lebih dahulu sebelum shalat Maghrib, berdasarkan hadits Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka puasa sebelum shalat (Maghrib) dan makanan yang paling dianjurkan untuk berbuka puasa adalah kurma. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat (Maghrib), bila tidak ada ruthab maka dengan tamr (kurma yang matang), bila tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud, 2/2356, dan At-Tirmidzi, 3/696, Ad-Daruquthni, 2/185, dengan sanad yang shahih, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah) Jangan lupa, berdoa sebelum berbuka puasa dengan doa:
“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala insya Allah subhanallahu wata’ala.” (HR. Abu Dawud, 2/306 no. 2357, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, 2/255, Ad-Daruquthni, 2/185, Al-Baihaqi, 4/239, dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anha dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah) Orang yang menjalankan ibadah puasa diharuskan menjauhkan perkataan dusta sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka tidak ada keinginan Allah pada puasanya” (HR. Bukhari no. 1804) 1 Yang dimaksud adalah iqomah, karena terkadang iqomah disebut adzan, wallahu a’lam. Yang dimaksud dengan sahur adalah akhir waktu sahur yaitu ketika masuk waktu shubuh, sebagaimana akan lebih jelas pada artikel ‘Sahur dan Berbuka’, -red. Pembatal Puasa a. Makan dan minum dengan sengaja Allah subhanallahu wata’ala berfirman:
“Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.” (Al-Baqarah: 187) Namun jika seseorang lupa maka puasanya tidak batal, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Jika ia lupa lalu makan dan minum maka hendaklah dia sempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari no. 1831 dan Muslim no. 1155) b. Keluar darah haidh dan nifas Hal ini sebagaimana dikatakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Adalah kami mengalami (haidh), maka kami diperintahkan untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan meng-qadha shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Para ulama telah sepakat dalam perkara ini. c. Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan Hal ini berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan kesepakatan para ulama. Bagi yang melakukannya diharuskan membayar kaffarah yaitu membebaskan budak, bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan secara terus-menerus, dan bila tidak mampu juga maka memberi makan 60 orang miskin. Tidak ada qadha baginya menurut pendapat yang kuat. Hukum ini berlaku secara umum baik bagi laki-laki maupun perempuan. Adapun bila seseorang melakukan hubungan suami istri karena lupa bahwa dia sedang berpuasa, maka pendapat yang kuat dari para ulama adalah puasanya tidak batal, tidak ada qadha dan tidak pula kaffarah. Hal ini sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang berbuka sehari di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada qadha atasnya dan tidak ada kaffarah (baginya).” (HR. Al-Baihaqi, 4/229, Ibnu Khuzaimah, 3/1990, Ad-Daruquthni, 2/178, Ibnu Hibban, 8/3521, dan Al-Hakim, 1/595, dengan sanad yang shahih) Kata ifthar mencakup makan, minum dan bersetubuh. Inilah pendapat jumhur ulama dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaukani rahimahumallah. d. Berbekam Ini termasuk perkara yang membatalkan puasa menurut pendapat yang rajih, berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
“Telah berbuka (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam.” (HR. At-Tirmidzi, 3/774, Abu Dawud, 2/2367;2370;2371, An-Nasai, 2/228, Ibnu Majah no. 1679,dan lainnya) Hadits ini shahih dan diriwayatkan dari kurang lebih 18 orang shahabat dan dishahihkan oleh para ulama seperti Al-Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ibnul Madini dan yang lainnya. Ini merupakan pendapat Al-Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah serta dikuatkan oleh Ibnul Mundzir. Ada beberapa perkara lain yang juga disebutkan sebagian para ulama bahwa hal tersebut termasuk pembatal puasa, di antaranya: a. Muntah dengan sengaja Namun yang rajih dari pendapat ulama bahwa muntah tidaklah membatalkan puasa secara mutlak sengaja atau tidak sengaja. Sebab asal puasa seorang muslim adalah sah, tidaklah sesuatu itu membatalkan kecuali dengan dalil. Adapun hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang dikalahkan oleh muntahnya maka tidak ada sesuatu atasnya dan barangsiapa yang sengaja muntah maka hendaklah dia meng-qadha (menggantinya).” (HR. Ahmad, 2/498, At-Tirmidzi, 3/720, Abu Dawud, no. 2376 dan 2380, Ibnu Majah no. 1676) Hadits ini dilemahkan oleh para ulama, di antaranya Al-Bukhari dan Ahmad. Juga dilemahkan oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah. Namun jika muntah tersebut keluar lalu dia sengaja memasukkannya kembali maka hal ini membatalkan puasanya. b. Menggunakan cairan pengganti makanan seperti infus Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, dan yang rajih bahwa suntikan terbagi menjadi dua bagian: 1). Suntikan yang kedudukannya sebagai pengganti makanan maka hal ini membatalkan puasanya, sebab nash-nash syari’at bila didapatkan pada sesuatu yang termasuk dalam penggambaran yang sama maka dihukumi sama seperti yang terdapat dalam nash. 2).Suntikan yang tidak berkedudukan sebagai pengganti makanan, maka hal ini tidaklah membatalkan puasa sebab gambarannya tidak seperti yang terdapat dalam nash baik lafadz maupun makna, tidak dikatakan makan dan tidak pula minum dan tidak pula termasuk dalam makna keduanya. Dan asalnya adalah sahnya puasa seorang muslim sampai meyakinkan pembatalnya berdasarkan dalil yang syar’i. (lihat fatwa Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Fatawa Islamiyyah: 2/130, fatwa Asy-Syaikh Bin Baaz rahimahullah dalam Fatawa Ramadhan: 2/485, dan Fatwa Lajnah Da’imah: 2/486, dan fatwa Syaikhul Islam rahimahullah dalam Haqiqotus Shiyam: 54-60). Namun Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menasehatkan bagi orang yang sakit untuk berbuka dan tidak berpuasa agar tidak terjatuh ke dalam sesuatu yang menimbulkan syubhat. (Min Fatawa Ash-Shiyaam: 6) c. Onani Pendapat yang rajih dari pendapat para ulama bahwa onani tidaklah membatalkan puasa, namun termasuk perbuatan dosa yang diharamkan melakukannya baik ketika berpuasa maupun tidak. Allah subhanallahu wata’ala berfirman menyebutkan di antara ciri-ciri orang mukmin:
“Dan (mereka adalah) orang yang memelihara kemaluannya, kecuali kepada istri-istrinya atau budak wanita yang mereka miliki. Maka sesungguhnya (hal itu) tidak tercela. Maka barangsiapa yang mencari selain itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mu’minun: 5-7) Hal-Hal yang Diperbolehkan Bagi Orang yang Berpuasa a. Bersiwak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Jika aku tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap hendak shalat.” (Muttafaq ‘alaih) b. Masuknya waktu fajar dalam keadaan junub Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mendapati waktu fajar dalam keadaan junub setelah (bersetubuh dengan) istrinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa. (Muttafaq ‘alaihi) c. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung asal tidak berlebihan Laqith bin Shabirah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam ber-istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung) kecuali bila kalian berpuasa.” (HR. Abu Dawud, 1/132, dan At-Tirmidzi, 3/788, An-Nasai, 1/66, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah) d. Menggauli istri selain bersetubuh Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium (istrinya) dan beliau berpuasa, menggaulinya (bukan jima’) dan beliau berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi) e. Mencicipi makanan dan menciumnya asal tidak memasukkan ke dalam kerongkongannya Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anha: “Tidak mengapa seseorang mencicipi cuka atau sesuatu (yang lain) selama tidak masuk kerongkongannya dalam keadaan dia berpuasa.” (Diriwayatkan Al-Bukhari secara mu’allaq dan disambung sanadnya oleh Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi) f. Mandi di siang hari Sebagaimana yang terdapat pada kisah junub Nabi shallallahu alaihi wasallam yang telah lalu. Perbuatan yang Dianjurkan di bulan Ramadhan a. Memperbanyak shadaqah b. Memperbanyak bacaan Al Qur’an, dzikir, doa, dan shalat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya lalu membacakan padanya Al Qur`an.” (HR. Al-Bukhari) c. Memberikan makan kepada orang yang berbuka puasa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya seperti pahala (yang berpuasa) dalam keadaan tidak berkurang sedikitpun dari pahala orang yang berpuasa itu.” (HR. Ahmad, 4/114, At-Tirmidzi, 3/807, Ibnu Majah, 1/1746, Ad-Darimi no. 1702, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih At-Tirmidzi). Wallahul muwaffiq. http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=296
Selasa, 07 Juli 2009
Sia-sia atau Malas
Sang Jendral memiliki kegemaran berburu ke hutan yang berada tepat di belakang rumahnya itu. Dia selalu berangkat berburu ketika matahari mulai naik sepenggalah tingginya. Kebiasaan itu di lakukan setiap hari untuk mengisi masa tuanya. Katanya sih...untuk refreshing dan olah raga.
Karena sudah terbiasa hidup di dunia militer, Sang Jenderal pun membawa kepribadiannya yang sangat disiplin dalam segala hal pada kehidupannya sehari-hari. Namun, hal itu membuat asistennya yang memiliki watak pemalas merasa berat dalam melakukan pekerjaanya setiap harinya. Namun demikian dia tidak pernah sedikitpun berniat untuk meninggalkan Sang Jenderal pergi karena hanya Sang Jenderal sajalah yang mau dengan sabar menerimanya sebagai anggota keluarganya, sementara keluarga asli dari pemuda itu pun sudah tak sudi lagi menerimanya.
Suatu hari, seperti biasa setelah melakukan rutinitas paginya, dari bangun tidur, mandi, sholat subuh, dzikir, tadarus, relaksasi otot, terus sarapan pagi, Sang Jenderal membuka email dengan notebooknya sambil menunggu waktu untuk pergi berburu. Pagi itu Sang Jenderal tidak begitu memperhatikan dan mengawasi kegiatan asistennya. Sementara sang asisten yang merasa dirinya tidak begitu diawasi mengambil kesempatan itu untuk bermalas-malasan. Setelah meletakan secangkir susu hangat di meja kerja Sang Jenderal, dia langsung pergi ke teras depan untuk tiduran di atas dipan. Ia pikir, tuannya tidak akan melihatnya karena ia sudah menyiapkan semua perlengkapan berburunya di dalam mobil tuannya. Ia langsung terlelap ke alam mimpi.
Ternyata sang pemuda melupakan satu hal, yaitu membersihkan sepatu boot yang b iasa dipakai Sang Jenderal untuk berburu. Saat sang Jenderal akan berangkat, ia mendapati sepatu bootnya masih dalam keadaan kotor penuh dengan lumpur kering. Dengan hati yang agak kesal tapi tetap sabar, ia segera menuju teras depan, karena ia tahu pasti asistennya sedang asyik di sana. Ketika ia melihat asistennya sedang tertidur, dengan lembut ia goyang badannya untuk membangunkannya.
"Jhon! Bangun, masih pagi kog tidur lagi si? Tidak baik untuk kesehatanmu! Ayo bangun!" Mendengar perintah tuannya yang sangt lembut itu, tidak membuat pemuda itu segera bangkit.
Ia hanya membuka matanya sedikit lallu menutupnya lagi sambil bergumam.
"Mmmm...aku masih ngantuk sekali Kek!"jawabnya, ia terbiasa memanggil Sang Jenderal dengan sebutan Kakek.
"Tapi kamu lupa satu pekerjaanmu!"kata Sang Jenderal sambil meletakan pantatnya di samping badan Jhon, asistennya.
"Lupa apa Kek? Semuanya sudah aku siapkan di mobil, tidak satupun tertinggal!"akhirnya dengan terpaksa pemuda itu mengangkat tubuhnya untuk duduk.
"Kamu lupa membersihkan sepatu Kakek! Ini kan kerjaanmu tiap hari, kenapa bisa lupa? Masa tiap hari Kakekmu yang sudah tua ini harus mengingatkanmu?"jelas Sang Jenderal sambil meletakan sepatu bootnya di depan kaki Jhon.
"Ah, Kakek! itu memang sengaja tidak aku bersihkan Kek! Lagi pula sia-sia kan walaupun aku bersihkan juga. Toh akhirnya pasti akan kotor lagi setelah kakek pakai berburu lagi, jadi mending tidak usah di bersihkan saja."jawab Jhon pada Sang Jenderal.
"Oh...benarkah demikian? Baiklah, kalau memang sia-sia ya sudah kakek pakai sepatu kotor ini untuk berburu."walaupun Sang Jenderal tidak marah dan seolah setuju dengan kalimat yang di ucapkan asistennya, dalam hati ia telah mempunyai rencana untuk membuat Jhon tidak lagi mempunyai pikiran yang sama lain waktu.
Setelah percakapan itu Sang Jenderal lau pergi berburu. kali ini ia tidak pulang saat waktu dzuhur, tetapi ia sengaja pergi ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang telah habis. Saat akan membeli persediaan bahan makanan, ia teringat pada rencananya untuk Jhon. Akhirnya ia urungkan niatnya belanja. Sang Jenderal akhirnya pergi ke sebuah warung makan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Setalah makan dan sholat, Sang Jenderal sempatkan untuk jalan-jalan keliling kota samapi sore. Setelah ia merasa bahwa waktunya untuk pulang, ia mampir lagi ke sebuah warung Padang untuk membeli makan untuk Jhon.
Sementara itu, Jhon yang di tinggal berburu oleh Sang Jenderal baru sadar kalau di Lemari es sudah tidak ada lagi persediaan makanan. Karena malas mencari bahan makanan di pinggiranhutan, ia putuskan untuk menunggu Tuannya. Ia pikir Sang Jenderal pasti tahu bahwa persediaan makanan di rumah telah habis. Pasti sang Jenderal akan segera pulang dengan membawa kebutuhan dapur dan hasil perburuannya.
Lama Jhon menunggu, ketika ia lirik jam diinding tua yang tergantung di ruang tamu, ia sadar tenyata sudah lewat dari waktunya makan siang. Perutnya sudah sangat perih karena lapar, sementara yang tersisa hanya iar mineral di galon saja. Sepotong biskuit pun tidak ada. Pemuda itu sangat tersiksa dan gelisah, sebentar-sebentar, ia ke belakang rumah memastikan bahwa Sang Jenderal sudah pulang, tetapi selalu saja kecewa. "Aduh...perutku sudah perih sekali, tapi kenapa Kakek belum pulang juga ya? mana HPku tidak ada pulsa lagi!"rintih pemuda itu sambil memegangi perutnya.
Sampai sore perut Jhon tidak mendapatkan makana sedikitpun kecuali air mineral saja yang masuk dan itu tidak menghilangkan rasa lapar yang amat sangat yang di derita Jhon.
Ketika matahari hampir tenggelam Jhon mendengar suara derum mobil tuannya. Ia langsung bangkit dan menjemput tuannya dengan harapan bahwa tuannya akan membawa makanan, setidaknya bahan makanan. Tapi, saat tuannya turun dari mobil, ia tidak melihat sepotong rotipun untuk bisa mengisi perutnya. Dan ia pun tidak melihat hasil buruan yang biasanya pasti di bawa pulang oleh tuannya.
"Kek, mana hasil buruannya? Dan kita sudah tidak punya bahan makanan lagi di dapur Kek. Kog kakek pulang dengan tangan kosong?"tanaya Jhon pada tuannya.
"Memangnya kamu pengin makan? Tadi kakek cuma dapat seekor kelinci, sudah kakek bakar di hutan untuk makan siang kakek. lalu kakek ke kota cuma untuk jalan-jalan dan ya...jajan sedikit makanan lah... Sekali-sekali kakek pengin makan masakan orang lain, yang bukan masakanmu."jawab Snag Jenderal seolah tidak tahu bahwa Jhon sangt kelaparan.
"Kakek ke kota dan makan di kota tanpa membeli sesuatu pun untuk aku Kek? Aku menunggu kakaek seharian dengan perut kosong dan sangat lapar! Kakek benar-benar tega."keluh pemuda itu dan mulai menangis!
"Lho, bukannya kamu yang ngajari kakek untuk berpikiran hukum sia-siamu itu?"tanya San Jenderal.
"Apa maksud kakek? Mengajari apa? Hukum sia-sia?"Jhon masih belum tahu kemana arah pembicaraan Sang Jenderal.
"Tadi pagi kamu bilang sepatu boot yang kotor akan sia-sia kalau di bersihkan karena akan dipakai lagi dan pasti kotor lagi, iya kan?"tanpa menunggu jawaban asistennya, Sang Jenderal melanjutkan,"Jadi kakek pikir sama juga hukumnya akan sia-sia kalau kamu makan saat lapar, karena nanti juga pasti aka lapar lagi, jadi biarkan saja lapar tidak perlu makan, bukan begitu?"Sang Jenderal tersenyum melihat perubahan mimik wajah Jhon.
"Kek...maafin Jhon kek! Jhon memang malas, tapi sekarang aku sangat lapar Kek! aku janji aku akn latihan untuk tidak malas Kek!"Jhon menangis menyesali sikapnya.
Akhirnya Snag Jenderal mengeluarkan isi tasnya yang berupa makanan untuk Jhon, yang sudah berjanji akan mengubah sikapnya.
Malam itu menjadi malam yang sangat berharga bagi Jhon, karena ia menemukan pelajaran hidup dari orang yang sangat baik.
Jhon sadar perbuatan malas sangatlah buruk akibatnya.
Rutinitas yang bermanfaat bukan hal yang sia-sia!
Seperti makan untuk mengisi perut yang pasti akan merasa lapar lagi suatu saat nanti!
Jumat, 19 Juni 2009
Ku Bayar Waktumu, Ayah!
Sabtu, 13 Juni 2009
Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus
Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M – 1036 M). Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.
“Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,” ungkap Scheppler. Ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur terlahir di kawasan Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.
Keluarganya “Banu Iraq” menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. “Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,” tutur O’Cornor dan Robertson.
Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu’l-Wafa (940 M – 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Biruni (973 M – 1048 M).
Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.
Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.
Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.
Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma’mun dan menjadi penasihat Abu’l Abbas Ma’mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.
Ali ibnu Ma’mun dan Abu’l Abbas Ma’mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.
Kontribusi Sang Ilmuwan
Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.
Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).
Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.
Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. ” Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan. Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,” papar ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson
Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.
Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus.
Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).
Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.
“Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,” jelas O’Cornor dan Robertson.
Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:
a/sin A = b/sin B = c/sin C
“Abu’l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,” ungkap O’Cornor dan Robertson.
O’Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M – 1000 M).
Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York 1970-1990). “Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,” katanya.
Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.
Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr
Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr telah ‘melahirkan’ seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.
Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.
Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.
Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.
Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu.
Bacalah!!!
Untuk alasan yang terakhir, yaitu bahwa membaca membuat mata cepat mengantuk memang masuk akal dan sering dijumpai pada kebanyakan orang. Itu hanya karena aktivitas ini akan memaksa kerja otot-otot saraf mata untuk bekerja keras secara terus menerus hingga akhirnya otot-otot itu merasa lelah dan butuh untuk diistirahatkan. Sebagai efeknya mata akan merasa mengantuk. Dalam aktivitas apapun yang menggunakan konsentrasi mata secara terus menerus pasti akan membuat orang tersebut merasa mengantuk karena otot-otot mata merasa lelah. Sebagai contoh jika orang bekerja di depan komputer dalam waktu yang lama atau menonton televisi dalam waktu yang cukup lama pun pasti akan merasakan kelelahan pada matanya dan akhirnya ngantuk. Jadi, bukan hanya semata-mata karena membaca maka mata akan menjadi merasa mengantuk. Kalau membacanya hanya sebentar atau isi bacaannya menarik tidak akan membuat mata cepat mengantuk, setidaknya menurutku seperti itu.
Tapi, alasanku untuk menggemari kegiatan yang satu ini adalah pertama, pekerjaan ini tidak begitu memerlukan tenaga alias tidak melelahkan badan, bahkan bisa dilakukan saat kita sedang istirahat. Kedua, aku bisa menggunakan waktu luang aku untuk hal yang bermanfaat, pengatahuanku pun bertambah. Ketiga, membaca itu ibadah. Nah, mungkin bagi yang tidak suka membaca, alasan ketiga ini belum mereka pahami.
Mengapa aku mengatakan bahwa membaca itu ibadah? Bukankah memang semua pekerjaan jika diawali dengan doa dan diniatkan hanya karena Alloh pasti akan menjadi ibadah? Ya, pertanyaan itu memang benar, tapi bukan semata-mata karena itu saja melainkan aku punya alasan sendiri.
Coba anda buka kitab terjemahan anda dan baca ayat 1 – 5 surat Al ‘Alaq tersebut. Di sana sampai dua kali Alloh mengulang kata “bacalah!” dan di ayat ke-5 Alloh SWT menjelaskan manfaat dari membaca yaitu manusia akan mengetahui hal yang sebelumnya tidak diketahuinya. Sebagai bukti nyata ayng saat itu langsung terjadi adalah bahwa Rosululloh Untuk lebih jelasnya, berikut ini aku tuliskan terjemahan ayat 1 – 5 dari surat Al ‘Alaq:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Memang ayat-ayat ini diturunkan secara langsung kepada Baginda Rosululloh saw. Saat itu memang yang disuruh membaca adalah beliau. Tapi bukan berarti bahwa ayat itu hanya untuk beliau saja. Kalau memang hanya untuk beliau saja, maka ayat ini tidak akan dimasukkan ke dalam kitab yang harus menjadi pedoman hidup seluruh manusia di dunia. Akan tetapi, ayat itu pun termasuk dalam sekian banyak ayat Al Quran yang memang di peruntukan untuk semua manusia, bukan hanya untuk baginda Rosululloh saw. saja.
Akan tetapi dari penjelasan yang aku uraikan di atas, bukan berarti bahwa aku telah menghukumi suatu masalah sendiri. Aku bukanlah seorang ahli dalm ilmu agama. Dan aku pun bukanlah seorang hafidz, hafal Al Quran. Melainkan aku hanyalah seorang yang sedang belajar ilmu agama dan ingin menyampaikan pendapat. Aku sangat mengharapkan feed back dari pembaca semua dan aku berharap blog ini bisa dijadikan sebuah forum diskusi.
Sementara ini, aku menyimpulkan bahwa ternyata membaca adalah wajib hukumnya karena manusia mendapatkan perintah secara langsung dari Alloh SWT. Dan aku berharap siapapun yang membaca posting ini akan tergugah semangatnya untuk gemar membaca. Apapun itu bahan bacaannya insya Alloh akan menambah berkah asalkan yang tidak bertentangan dengan syariat islam.
Untuk mengakhiri posting kali ini, aku hanya ingin mengajak pembaca semua untuk menjadi seorang lagi yang mendapatkan julukan “kutu buku”.
Bacalah!!!
Selasa, 14 April 2009
Masuk Surga dan MAsuk Neraka karena Seekor LALAT?
Imam Thariq bin Syihab mengetahui keheranan kaum muslimin yang menghadiri majelisnya itu. Maka, beliau lalu menceritakan sebuah kisah yang menjelaskan hal tersebut.
Di kisahkan ada dua orang pengembara yang melakukan perjalanan secara terpisah. Dalam perjalanan, dua orang pengemabara tersebut memasuki sebuah daerah yang didiami oleh kaum yang menyembah berhala. Kaum tersebut memiliki berhala yang disembah dan dikeramatkan. Setiap orang yang melalui daerah mereka harus memberikan korban kepada berhala tersebut sebagai sesembahan. Jika orang tersebut tidak bersedia memberikan pengorbanan, maka kaum di daerah tersebut tidak akan membiarkannya keluar dari daerah itu dalam keadaan bernyawa. Begitu juga yang dialami oleh kedua pengembara tadi. Mereka diharuskan memberikan korban sesembahan kepada berhala keramat di daerah itu.
Ketika pengembara pertama masuk ke daerah itu, ia segera mengetahui hal itu dan saat ia akan meninggalkan daerah itu, dia dihadang dua orang algojo yang bertampang sangat menakutkan dan memintanya untuk memberikan korban. Saat itu ia merasa sangat ketakutan. "Tapi tuan, saya hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki apapun yang bisa saya korbankan untuk sesembahan kalian." Pengembara itu memohon dengna wajah yang sangat ketakutan. "Kalau begitu usahakanlah! Carilah olehmu, walaupun itu hanya seekor lalat!" perintah salah seorang algojo yang menghadangnya. Kebetulan tidak jauh dari gerbang itu terdapat tumpukan sampah, pengambara itu pun segera mendatanginya dan menangkap seekor lalat yang terbang di sekitar tumpukan sampah tersebut. Diberikannyalah lalat itu sebagai korban untuk sesembahan si daerah itu.
Sementara saat mengalami hal yang sama, pengembara kedua tetap teguh memegang keimanannya. "Lakukanlah pengorbanan untuk sesembahan kami, sebelum kau meninggalkan kota kami! Jika kau tidak mempunyai sesuatu untuk korban, maka caarilah olehmu walau hanya seekor lalat!" perintah salah seorang algojo yang berjaga di gerbang keluar kota. "Demi Alloh SWT yang ubun-ubun ku ada pada genggaman-NYA, aku tidak akan melakukan pengorbanan apapun bahkan hanya dengan seekor lalat kecuali untuk-NYA. Tidak ada yang pantas di sembah selain hanya Alloh ta'ala!" jawab pengembara itu tegas. Karena dalam hatinya ia telah yakin bahwa berkorban hanya boleh dilakukan jika sesuai dengan syariat, yaitu kurban pada hari Iedul Adha yang dilakukan dengan ikhlas hanya karena Alloh. Sedangkan memberikan sesmbahan kepada berhala - walaupun hanya dengan seekor lalat - adalh perbuatan yang mempersekutukan Alloh, itu berarti syirik. "Jika demikian, artinya kau memilih mati di tangan kami!" ancam algojo tersebuat seraya menyeringai menampakkan gigi-giginya, bagaikan harimau yang siap menerkam mangsanya. "Hidup dan matiku hanya ada di tangan Alloh. Jika aku harus mati saat ini, maka aku memilih untuk mati dengan mempertahankan agamaku!" tanpa rasa takut sedikitpun pengambara tersebut tetap pada pendiriannya. Selanjutnya, terjadilah pertarungan antara pengembara tersebut melawan dua orang algojo bersenjata tajam. Akhirnya pengembara itu mati terbunuh. Dia telah mati dalam keadaan syahid mempertahankan akidahnya dan masuk syurga.
Adapun pengembara pertama yatng telah berhasil keluar daerah itu dalam keadaan hidup, akhirnya meneruskan pengembaraannya. Tapi malang nasibnya, baru beberapa saat ia meninggalkan kota berhala itu, ia di gigit ular gurun yang berbisa, dan bisanya sangat mematikan. Akhirnya ia pun mati. Namun sayang, ia mati dalam keadaan musyrik (menyekutukan Alloh). Dia masuk ke neraka karena telah melakukan dosa syirik/menyekutukan Alloh, dengan mempersembahkan seekor lalat pada berhala.
Hikmah yang saya ambil dari kisah di atas adalah bahwa sekecil apapun hal yang kita lakukan jika hal itu mengarah pada kesyirikan, maka hal itu akan dapat menjerumuskan kita pada api neraka. Selain itu, tak ada satu hal [un di dunia ini yang perlu kita takutkan kecuali azab Alloh yang pedihnya tiada tandingan.
Apakah yang bisa anda ambil dari kisah di atas?
Semoga tulisan saya ini bisa bermanfaat sebagai bahan perenungan bagi seluruh muslim yang membacanya! Amin....
Selasa, 17 Maret 2009
Kerugian Merokok
Lepas dari pantas atau tidak pantas, apakah pernah terbersit dalam pikiran mereka bahwa sebenarnya kalau mereka mengkonsumsi rokok, maka manfaat atau mudhorotkah yang mereka dapatkan?
Dari beberapa orang yang saya tanya, ini bukan penelitian karena saya bukan seorang peneliti dan saya tidak memilih orang itu perokok atau bukan perokok, ada yang menjawab merokok dapat menghilangkan stress, lapar (karena ada yang mengatakan “lebih baik tidak makan dalam sehari dari pada tidak merokok”). Ketika saya tanyakan kerugian dari merokok pada orang yang sama, saya mendapatkan beberapa jawaban, antara lain, menyebabkan penyakit yang jenisnya dapat dibaca disetiap bungkus rokok, boros, ketagihan, membuat warna bibir dan gusi jadi hitam, dan beberapa jawaban yang lain. Tapi anehnya beberapa orang perokok sudah tahu efek negatif dari rokok, tetapi tetap saja menghisap asap beracun itu seolah mereka tidak tahu dan tidak dengar apa yang mereka katakan sendiri. Berbagai alasan juga mereka ucapkan untuk menghalalkan dan mendapatkan ke-sah-an merokok.
Sebelum ke masalah inti, saya ingin menceritakan pengalaman saya terlebih dahulu. Sekali lagi sebagai orang biasa yang bukan pakar apapun, saya memutuskan untuk tidak merokok. Jujur saja, saya pun pernah menghisap batang beracun itu. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 sekolah lanjutan pertama. Saat mementaskan rebana di sebuah acara hajatan, saya disuguhi batang rokok kretek yang di tempatkan di dalam gelas. Beberapa teman saya langsung mengambilnya satu-satu dan menghisap batang rokok itu. Terdorong rasa penasaran saya pun mengambilnya. Awalnya teman-teman saya heran dan menertawakan saya karena mengira bahwa saya cuma pura-pura saja. Tapi, saat saya menyalakan korek api dan membakar rokok yang sudah saya letakan di bibir, mereka pun memperhatikan saya tanpa ada suara. Saat itu saya bisa menghisap rokok tanpa terbatuk-batuk seperti umumnya perokok pemula. Tapi, samapai rokok tersebut habis, saya sama sekali tidak merasakan hal yang istimewa dari menghisap rokok itu. Dan saya tidak langsung berubah jadi seorang perokok. Bukan karena seandainya orang tua saya tahu saya akan kena marah, bukan karena itu, tetapi karena saya tidak merasa mendapatkan manfaat dari merokok. Kemudian pada kesempatan yang lain, pada acara silaturahmi keluarga salah seorang teman, saya diundang untuk memainkan pentas rebana lagi. Lagi-lagi, grup rebana saya yang terdiri dari anak-anak SMP disuguhi rokok, kali ini rokok yang disuguhkan adalah rokok filter. Saat itu saya tidak merasa tertarik untuk mengambilnya, tapi teman saya mengambilkannya untuk saya dan meminta saya untuk mencobanya dan saya pun mencobanya. Apa yang saya rasakan saat itu adalah sama dengan pengalaman pertama saya. Saya pun semakin meyakinkan pada diri saya sendiri bahwa merokok sama sekali tidak memberikan manfaat untuk saya. Dan itulah 2 batang rokok yang saya hisap sepanjang hidup.
Akhirnya sampai pada hari ulang tahun saya yang ke-17, saya mengundang teman2 grup nasyid ke acara syukuran kecil-kecilan yang saya adakan di rumah. Saat itu salah satu teman perempuan memberi saya kado sebuah buku kecil, yang sangat berharga buat saya. Terimakasih Mbak kadonya! Buku itu berisi tentang penjelasan kerugian dari merokok, di pandang dari segi agama, sejak saya membaca buku itu semakin yakin bahwa pilihan saya untuk tidak merokok adalah pilihan yang tepat.
Banyak dijelaskan tentang kerugian mengkonsumsi rokok di lihat dari beberapa sisi, berikut ini saya ingin berbagi cerita dan ulasan hanya beberapa hal saja diantaranya adalah:
1. Dari sisi Ekonomi merokok merupakan suatu Pemborosan
Mengkonsumsi rokok adalah suatu pemborosan yang sangat besar. Hal ini tidaklah dapat dielakkan lagi. Membeli rokok bisa dikatakan membakar uang. Apa namanya kalau bukan pemborosan, bahkan pemborosan yang sia-sia, jika anda mengeluarkan uang hanya untuk membeli benda yang akhirnya dibakar dan tidak memberikan manfaat apapun pada diri anda. Walaupun anda bisa beralasan bahwa dengan merokok dapat menghilangkan stress yang anda derita. Tapi menurut saya alasan itu adalah alasan yang sangat klise atau mengada-ada. Seandainya memang untuk menghilangkan stress, anda bisa melakukan hal lain yang lebih bermanfaat dan mungkin akan mengeluarkan biaya yang lebih kecil, sebagai contoh dengan berolahraga. Bisa jogging, sepeda santai atau ke gym fitness center, atau yang bisa anda lakukan tiap waktu dan di manapun dengan waktu yang singkat misalnya push-up atau shit-up, hal ini bisa anda lakukan di tempat kerja. Kalaupun uang yang anda keluarkan sama jumlahnya atau bahan lebih besar hal itu sudah benar-benar memberikan manfaat bagi tubuh anda.
Sekarang mari kita bandingkan bersama biaya yang di keluarkan untuk rokok dan untuk olah raga di Gym misalnya. Pertama kita hitung pengeluaran untuk merokok. Jika untuk sebatang rokok harganya adalah Rp.500,- dan anda rata-rata sehari menghabiskan 1 bungkus rokok (12 batang), maka sehari anda mengeluarkan uang 12 x Rp.500 = Rp.6000,-. Jika 1bulan adalah 30 hari, maka untuk membeli rokok anda akan mengeluarkan uang sebanyak 30 x Rp.6000 = Rp.180.000,-
Dalam sebulan uang belanja keluarga anda akan terpotong Rp.180.000,- jumlah yang banyak untuk yang berpenghasilan pas-pasan. Untuk yang berpenghasilan tinggi pun tidaklah sedikit jika hanya untuk hal yang sia-sia.
Coba kita hitung berapa rupiah dalam setahun anda membakar uang yang anda dapatkan dengan mengorbankan keringat dan pikiran anda. Rp.500,- x 12 x 30 x 12 = Rp.2.160.000,-.
Kedua untuk gym, biasanya untuk gym sistem pembayarannya adalah bulanan. Biaya yang diekuarkan untuk gym sangatlah tergantung dari tempatnya. Semakin lengkap fasilitas yang disediakan maka otmatis harganya makin mahal. Tapi, jika tidak benar-benar untuk jadi seorang olahragawan anda bisa memilih yang cukup saja atau medium class, tidak perlu yang high class. Menurut pengetahuan saya untuk medium class anda cukup mengeluarkan biaya Rp.70.000 – Rp. 100.000. Mari kita ambil titik atasnya, Rp.100.000/bulan. Sudah kita dapatkan nilai selama sebulan, jadi untuk setahun anda mengeluarkan uang sebanyak Rp.100.00 x 12 = Rp.1.200.000,-
Sekarang kita bisa menghitung selisihnya antara rokok dan olahraga, untuk rokok Rp. 2.160.000/tahun – untuk olahraga Rp.1.200.000/tahun = Rp.960.000. Lihat, anda bisa menghemat uang yang cukup besar jika mengganti kebiasaan merokok anda dengan olahraga.
Pasti diantara pembaca ada yang mengatakan, untuk fitness kan memerlukan suplemen ini dan itu yang harganya pun lumayan mahal. Pernyataan itu akan segera saya komentari bahwa fitness tidak selamanya harus mengkonsumsi suplement, anda bisa saja tidak mengkonsumsinya, jika anda terbiasa minum susu atau makan dengan teratur tiap hari, itu sudah cukup. Lagi pula jika anda memang menginginkan kesehatan, akan sangat lebih tepat jika anda menghindari rokok. Yang paling penting asupan bahan pemebentuk energi dalam tubuh seimbang dengan aktivitasnya.
Dari perhitungan di atas baru kita dapatkan pengeluaran untuk satu orang. Jika di Indonesia yang jumlah penduduknya sekitar 200juta orang lebih ini, 30% dari jumlah penduduknya adalah perokok, maka setiap tahun Indonesia akan membakar uang sebanyak 30% x 200.000.000 x Rp.2.160.000 = Rp.129.600.000.000.000,-
Bayangkan! Pendapatan penduduk Indonesia akan dibakar sebanyak Rp.129,6 trilyun/tahun, ini jika di hitung jumlah penduduk Indonesia tepat 200juta orang.
Seandainya semua perokok tadi berhenti dari kebiasaan buruknya itu dan menyimpan uangnya di bank atau di alokasikan untuk pembangunan, kemungkinan besar Indonesia sudah lebih maju daripada sekarang.
Dilihat dari mana pun yang namanya pemborosan tidaklah memberikan dampak positip. Selain itu Alloh telah melarang untuk berbuat boros. Di firmankan-Nya dalam Al Quran surat Al Asraa ayat 26 – 27, sebagai berikut:

Sebagai orang yang beriman tentulah tidak bersedia untuk menjadi saudara syaitan karena sesungguhnya syaitan itu benar-benar nyata musuh bagi manusia.
2. Dari sisi kesehatan, rokok Menyebabkan Penyakit
Untuk hal ini saya memang belum pernah menanyakan langsung pada ahlinya atau bahkan melakukan survei sendiri. Tetapi jelas di setiap bungkus rokok saja telah dicantumkan bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit yang membahayakan kesehatan. Saya sangat percaya dengan peringatan itu.
Sebagai bukti kecil yang membuat saya percaya bahwa rokok membahayakan kesehatan semua orang yang menghisap asapnya, bukan hanya perokoknya melainkan orang-orang yang berada di sekitarnya juga, yaitu pengalaman saya sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu, sepupu saya yang duduk di bangku kelas 4 SD, dua tahun di bawah saya menunjukan percobaan yang baru saja ia terima di sekolah bahwa asap rokok dapat menimbulkan flex pada kertas, kain, bahkan telapak tangannya. Dia membakar sebatang puntung rokok yang ia ambil dari asbak, kemudian dengan tangan yang satunya ia pegang selembar kertas polos putih sehingga asap yang mengepul dari rokok tersebut mengenai kertas yang ia pegang tadi. Setelah menunggu beberapa lama ia tunjukan daerah kertas yang terkena asap tadi, ternyata warnanya agak kuning kecokelatan. Kemudian ia melakukan percobaan yang sama dengan menggunakan bahan kain dan yang terakhir menggunakan telapak tangannya. Sebelum menggunakan telapak tangannya, terlebih dahulu ia basahi telapak tangannya dan membiarkannya lembab (tidak basah dan tidak kering) ternyata telapak tangannya pun berubah warna, dan terdapat noda agak gelap. Sementara untuk kertas dan kain jika dalam keadaan lembab pun akan semakin cepat flex-nya muncul.
Pada waktu itu kami berdua belum paham bahwa yang flex tersebut mengandung senyawa nicotine.
Dari artikel yang pernah saya baca, say mendapatkan pengetahuan bahwa Nicotine adalah senyawa higroskopis. Senyawa ini dapat menyatu dengan air dalam bentuk dasarnya. Nicotine mudah meresap kedalam kulit. Free base nicotine akan terbakar pada suhu dibawah titik didihnya dan uapnya akan terbakar pada suhu 35°C dalam udara dengan tekanan uap rendah. Jika nicotine masuk ke dalam tubuh, senyawa ini akan tersebar secara cepat ke dalam aliran darah dan dapat menghambat aliran darah di dalam otak. Rata-rata nicotine memerlukan waktu hanya 7 detik untuk sampai ke otak ketika terhirup. Dan sebenarnya Nicotine ini di gunakan di bidang kesehatan, untuk lebih jelasnya bisa di tanyakan pada ahlinya.
Selain itu dari percobaan yang saya lakukan waktu kecil di atas, karena saya orang bodoh jadi saya bandingkan dengan apa yang terjadi sehari-hari di dapur tempat tinggal saya. Dimana orang tua saya masih menggunakan tungku dan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Saat memasak akan mengeluarkan asap. Hal ini terjadi setiap hari, setidaknya sehari sekali. Saya perhatikan atap rumah yang tepat berada di atasnya, yang setiap kali ibu masak atap itu terkena asapnya semakin lama semakin menghitam, dan jika tersentuh akan meninggalkan noda hitam di tangan. Noda itu disebut jelaga, begitu banyak orang menyebutnya. Nah, bandingannya dengan percobaan itu, jika orang menghisap asap rokok setiap hari bukan tidak mungkin lagi paru-paru yang merupakan organ pernafasan utama manusia yang memiliki saluran dengan hidung dan mulut itu akan bernasib sama seperti atap rumah di atas tungku kami.
Setahu saya paru-paru itu untuk menyaring dan menangkap oksigen dari udara yang kita hirup. Jika paru-paru kita sudah kotor bagaimana bisa menyaring dan menangkap oksigen yang diperlukan tubuh manusia untuk melakukan pembakaran dalam pembentukan energi untuk tubuh? Terus bagaimana caranya untuk membersihkan paru-paru itu? Sementara ia ada di dalam dada kita yang terlindungi tulang rusuk. Selain itu jika ada metrial asing yang tersimpan dalam tubuh, sistem imun dalam tubuh kita akan memberikan vaksin otomatis, dan jika hal ini terjadi secara terus menerus yang terjadi pada tubuh kita bukan menjadi sehat malah akan sebaliknya, vaksin-vaksin itu akan memakan tubuh kita. Penyakit ini yang disebut juga dengan kanker.
3. Dari sisi religi
Kalau membahas rokok dari segi agama ini saya tidak ingin panjang lebar. Terdapat dua pendapat yang berbeda di kalangan para ulama. Yang pertama berpendapat bahwa merokok itu haram, dan yang kedua mengatakan bahwa merokok itu tidak diharamkan. Kedua pendapat itu sudah pasti ada alasannya masing-masing dan itu pasti kuat karena para ulama yang mengeluarkan pendapat itu sudah pasti memiliki dasar yang kuat.
Saya sendiri sampai saat ini belum menemukan dalil atau dasr yang dengan jelas menyebutkan merokok itu haram. Sebagai perbandingan dalam Al Quran dengan jelas disebutkan haramnya khamr, bahkan ada di beberapa ayat, misalnya:

Saya bukan seorang ahli tafsir Al Quran atau seorang hafidz, bahkan membaca huruf hijaiyah pun saya masih belajar, tapi selama ini belum saya dapatkan dalil yang sangat kuat bahwa rokok itu haram.
Tapi bukan berarti saya lantas menghalalkan merokok, karena saya juga tidak menemukan dasar yang menghalalkan rokok.
Dalam hal ini saya mengambil keputusan bahwa rokok itu berada di antara halal dan haram, alias hal yang subhat. Saya bukan ahli bahasa yang bisa mengartikan arti kata subhat, tapi saya hanya mendapat istilah itu dari buku dan dari ustadz yang mengajar saya. Dari yang saya dapat, hal subhat adalah hal yang ragu, atau berada di antara dua hal yang jelas. Nah, merokok itu adalah hal yang masuk kategori subhat karena tidak haram dan tidak halal.
Lantas bagaimana saya menyikapi hal subhat ini?
Saya pernah mebaca sebuah hadits pada sebuah buku “Al-Ma’tsurat & HADITS ARBA’IN, HASAN AL-BANA – IMAM NAWAWI, terbitan Gema Insani Pers”. Berikut saya tuliskan artinya: “An-Nu’man Bin Basyir berkata:”Saya mendengar Rosululloh saw. bersabda (sementara An-Nu’man tengah memasukkan jari-jarinya ke telinganya), ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya adalah hal yang syubhat (samar) yang tidak banyak diketahui oleh manusia. Maka barang siapa yang menjaga diri dari yang syubhat tersebut, dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terperosok dalam perkara syubhat, maka dia telah terperangkap dalam hal yang haram, ibarat penggembala yang menggembala di padang rumput terlarang, bersuka ria di pinggir perbatasannya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan, dan ketahuilah bahwa larangan Alloh adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad tersebut. Namun, apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad tersebut. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. MUSLIM)
Dari hadits di atas saya menangkap peringatan keras dari Rosululloh saw. bahwa jangan pernah kita sebagai umatnya mencoba melakukan hal-hal yang syubhat, termasuk merokok, karena bila kita melakukannya, itu artinya kita terperosok dalam hal syubhat, dan dalam hadits tersebut Rosululloh saw. mengatakan bahwa orang yang terperosok dalam perkara syubhat maka dia telah terperangkap dalam hal yang haram. Bukan hanya “akan terperangkap dengan mudah” melainkan “telah terperangkap”. Jadi, jika kita menginginkan untuk menjadi seorang muslim yang baik dan tidak menginginkan terperangkap hal yang haram, maka kita harus menghindari juga hal-hal yang syubhat. Karena kita sudah tahu bahaya dari melakukan hal-hal yang tidak haram dan tidak juga halal, alias syubhat. Salah satunya adalah merokok.
Sebenarnya masih ada beberapa atau mungkin banyak kerugian dari merokok yang belum bisa saya jelaskan. Tetapi, saya rasa sudah terlalu panjang saya menjelaskan hal ini, saya khawatir saya akan semakin banyak menuliskan hal-hal yang kurang tepat bila saya menulis lebih banyak lagi.
Untuk mengakhiri artikel ini, saya hanya ingin menekankan lagi bahwa merokok memiliki dampak buruk yang sangat luas, bukan hanya bagi perokok tapi bagi seluruh isi bumi, maka hindarilah! Lebih baik mencegah daripada mengobati atau memperbaiki.
Saya sangat berharap semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca. Saya sadar bahwa saya adalah makhluk lemah yang tidak bisa lepas dari berbuat salah, dan saya yakin dalam penulisan artikel ini terdapat hal-hal yang kurang tepat, maka saya harapkan para pembaca dapat memakluminya dan bersedia memberikan saran atau kritikan yang membangun untuk perbaikan ke depannya.
Kebenaran datang hanya dari ALLOH SWT dan kesalahan adalah murni karena saya manusia.
Terimakasih!
Wassalammu’alaikum!
_PARYADI_
Selasa, 10 Maret 2009
Global warming
As I know, global warming is a comprehensive increasing world temperature. Like what we've felt recently, the temperature is very hot. It occurs not only in an area, but also in whole of the world.
Why can it happen?
What does cause it?
Certainly, it because the composition of atmosphere elements change and become unbalanced. Many sources can cause it. I won't talk about all sources. Let me tell the nearest one from us in our daily activities. We use it every day, even every time!
What is it?
It is Electrical Energy. May be the biggest energy used by the humans in the world is Electric Energy. However, how can the electric energy changes the atmospheric concentrations? It doesn't produce any gases as the emission, does it?
YES, IT DOES!
Although we can not see the emission directly from electricity, in fact it contributes so high value. Well, if we only look at the light, at the TV, radio or something else, it will be right that they don't produce any gases as the emission.
However, don't you know how the electric energy is generated? In addition, what is the fuel to generate it? Many power stations use coal as the fuel. When burning the coal, it contributes so high concentration of CO2 and NOx to the atmosphere. The greater we use the electric energy, the higher of CO2 emissions contributed to the air. Additionally, concentration of CO2 in the atmosphere heats up the air temperature. If it occurs continuously, it can bring many disasters following. Like flood, storms, or the ace layer in the poles may melt and the surface of the oceans increases, reducing the land area, even until no land any more!
Do you expect it?
Of coarse no one wants it.
So, what can we do to prevent the disasters? Just by reducing the production of the gas emissions, or reducing the pollutions. Like what I wrote previously about electrical energy. We must maintain to use it effectively. In other hand use electricity only when we do need it. Never leave TV, radio, lamp, etc. turning on.
Finally, I’d like to emphasize that the life of the world is our responsible. Don’t waste the energy because it can make bad disasters.
Think first what we are going to do for the future.
Thank you very much. I hope this short writing can open our brain and give positive energy for better improvement.
Kamis, 19 Februari 2009
Gaung Kemudahan
Di rumah putri kesayangan nabi itu, rupanya juga tidak ada sesuatu yang layak dimakan. Maka dengan hati tulus dan ikhlas, Fatimah memberinya kalung hadiah pernikahannya dengan Ali. ''Ambillah kalung ini dan juallah! Mudah-mudahan harganya cukup memenuhi keperluanmu!'' kata Fatimah. ''Berapa hendak kamu jual kalung itu?'' Tanya Ammar bin Yasir. ''Aku akan menjualnya dengan tukaran roti dan daging sekadar untuk mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku, dan uang satu dinar untuk menemui istriku,'' kata si tamu. Ammar berkata, ''Baiklah, aku membeli kalung itu dengan harga 20 dinar, ditambah 200 dirham, ditambah sebuah baju, serta seekor unta agar kamu dapat menemui istrimu.'' Setelah itu Ammar berkata kepada budaknya, Asham. ''Wahai Asham, pergilah sekarang menghadap Rasulullah. Katakan bahwa aku menghadiahkan kalung ini dan juga kamu kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi, tetapi budak Rasulullah.'' Ternyata Rasulullah pun berbuat sebagaimana Ammar. Ia menghadiahkan kalung itu dan juga Asham kepada Fatimah. Fatimah sangat bahagia menerima hadiah dari ayahandanya, sekalipun dia tahu bahwa kalung ini semula memang miliknya. Dia sadar, ternyata kebaikannya yang hanya sekadar memberi kalung mendapat balasan berlebih dari Allah swt, yaitu dengan ditambah seorang budak.
Lalu Fatimah berkata kepada Asham, ''Wahai Asham, kamu sekarang bebas dari perbudakan dan menjadi manusia merdeka, aku melakukan semua ini karena Allah swt semata.''
''Mengapa kamu tertawa seperti itu,'' tanya Fatimah yang merasa heran melihat Asham tertawa terbahak-bahak. ''Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung yang beriwayat ini. Ia telah mengeyangkan orang yang lapar. Ia telah menutup tubuh orang yang telanjang. Ia telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya ia telah membebaskan seorang budak,'' jawab Asham. Rasulullah bersabda, ''Siapa saja yang ingin doanya dikabulkan dan kesusahannya dihilangkan, maka bantulah orang yang sedang kesulitan.'' (HR Ibnu Abi ad-Dunya)Sahabat, mari kita membuat gaung kemudahan sebanyak-banyaknya, agar kita banyak mendapatkan kemudahan untuk hidup semakin prestatif dan bermanfaat bagi banyak ummat. Berani hadapi tantangan? Bagaimana pendapat anda !!!
oleh : Amri Knowledge Entrepreneur
Minggu, 15 Februari 2009
Dari Seorang OB untuk Direktur
Oleh : Andrie Wongso
Dikisahkan, di sebuah pesta perpisahan sederhana pengunduran diri seorang
direktur. Diadakan sebuah sesi acara penyampaian pesan, kesan, dan
kritikan dari anak buah kepada mantan atasannya yang segera memasuki masa
pensiun dari perusahaan tersebut.
Karena waktu yang terbatas, kesempatan tersebut dipersilahkan dinyatakan
dalam bentuk tulisan. Diantara pujian dan kesan yang diberikan, dipilih
dan dibingkai untuk diabadi kan kemudian dibacakan di acara tersebut,
yakni sebuah catatan dengan gaya tulisan coretan dari seorang office boy
yang telah bekerja cukup lama di perusahaan itu.
Dia menulis semuanya dengan huruf kapital sebagai berikut, “Yang
terhormat Pak Direktur. Terima kasih karena Bapak telah mengucapkan kata
”tolong”, setiap kali Bapak memberi tugas yang sebenarnya adalah tanggung
jawab saya. Terima kasih Pak Direktur karena Bapak telah mengucapkan
”maaf”, saat Bapak menegur, mengingatkan dan berusaha memberitahu setiap
kesalahan yang telah diperbuat karena Bapak ingin saya merubahnya menjadi
kebaikan.
kepada saya atas hal-hal kecil yang telah saya kerjakan untuk
Bapak.Terima kasih Pak Direktur atas semua penghargaan kepada orang kecil
seperti saya sehingga saya bisa tetap bekerja dengan sebaik-baiknya,
dengan kepala tegak, tanpa merasa direndahkan dan dikecilkan. Dan sampai
kapan pun bapak adalah Pak Direktur buat saya. Terima kasih sekali lagi.
Semoga Tuhan meridhoi jalan dimanapun Pak Direktur berada. Amin.”
Setelah sejenak keheningan menyelimuti ruangan itu, serentak tepuk tangan
menggema memenuhi ruangan. Diam-diam Pak Direktur mengusap genangan
airmata di sudut mata tuanya, terharu mendengar ungkapan hati seorang
office boy yang selama ini dengan setia melayani kebutuhan seluruh isi
kantor.
Pak Direktur tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sikap dan ucapan
yang selama ini dilakukan, yang menurutnya begitu sederhana dan
biasa-biasa saja, ternyata mampu memberi arti bagi orang kecil seperti si
office boy tersebut.
Terpilihnya tulisan itu untuk diabadikan, karena seluruh isi kantor itu
setuju dan sepakat bahwa keteladanan dan kepemimpinan Pak Direktur akan
mereka teruskan sebagai budaya di perusahaan itu.
Pembaca Yang Budiman,
Tiga kata “terimakasih, maaf, dan tolong” adalah kalimat pendek yang
sangat sederhana tetapi mempunyai dampak yang positif. Namun mengapa
kata-kata itu kadang sangat sulit kita ucapkan? Sebenarnya secara tidak
langsung telah menunjukkan keberadaban dan kebesaran jiwa sosok manusia
yang mengucapkannya. Apalagi diucapkan oleh seorang pemimpin kepada
bawahannya.
Pemimpin bukan sekedar memerintah dan mengawasi, tetapi lebih pada sikap
keteladanan lewat cara berpikir, ucapan, dan tindakan yang mampu
membimbing, membina, dan mengembangkan yang dipimpinnya sehingga tercipta
sinergi dalam mencapai tujuan bersama.
Tentu bagi siapapun kita perlu membiasakan mengucapkan kata-kata pendek
seperti terima kasih, maaf, dan tolong dimana pun, kapan pun, dan dengan
siapa pun kita berhubungan. Dengan mampu menghargai orang lain minimal
kita telah menghargai diri kita sendiri.
