Jumat, 19 Juni 2009

Ku Bayar Waktumu, Ayah!

Seperti hari-hari sebelumnya, Rahmat pulang larut malam hari ini. Tetapi malam ini ia agak terkejut karena saat ia masuk rumahnya, ia mendapati anak tunggalnya, yang masih berusia 6 tahun, masih dalam kondisi terjaga di ruang tamu. Anak itu yang semula duduk di sofa ruang tamu segera bangkit dan berlari menghampirinya. "Kenapa belum tidur?"tanya Rahmat pada anaknya seraya berjongkok dan memegang pundak anaknya dengan kedua tangannya yang terasa pegal. "Ade menunggu ayah pulang."jawab anaknya, terlihat segaris senyum di bibir anak itu.
"Menunggu ayah? Sampai larut malam begini?"Rahmat bertanya heran. "Apa ada yang penting, hemm?"lanjutnya sambil bangkit dari jongkoknya dan segera berjalan menuju kamarnya. Anaknya hanya mengekor di belakangnya.
"Ayah, Ade boleh tanya sesuatu tidak?"tanya anak itu ketika melihat ayahnya sedang melepas pakaiannya yang sudah beraroma keringat. "Hemm???"Rahmat tidak begitu menanggapi anaknya karena ia merasa sangat letih dan ingin segera istirahat. "Ayah, ayah mendapatkan gaji berapa di tempat ayah bekerja?"lanjut Ade sambil duduk di atas kasur empuk di samping ibunya yang sudah tertidur pulas. "Kenapa tiba-tiba Ade menanyakan gaji ayah? Ade mau minta uang?"Rahmat menatap wajah anaknya dalam-dalam. Rahmat menangkap hal yang aneh pada anaknya malam ini. Sebenarnya ia ingin tahu lebih jauh alasan anaknya bersikap aneh malam ini, tetapi ia sudah sangat capek dan yang paling ia inginkan sekarang adalah istirahat. "Sebentar, ayah cuci muka dulu ya!"Rahmat segera berlalu ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ade tetap menunggu ayahnya yang sedang membersihkan badan di kamar mandi.
Ketika keluar dari kamar mandi, Rahmat melihat anaknya masih duduk di ranjangnya. Ia masih memiliki kesabaran untuk buah hatinya yang sangat ia sayangi itu. Lalu ia menghampiri anaknya dan duduk di sebelahnya. "Baiklah! Ayah sangat capek, jadi tanyanya jangan lama-lama ya!"pintanya sambil mengusap kepala Ade. "Tidak ayah, Ade cuma mau tahu gaji ayah sebulan berapa? Itu saja."jawab Ade sambil menunduk dan pelan-pelan menyandarkan badannya ke badan ayahnya. "Hm...coba Ade hitung sendiri ya, Huahmmm! Ayah bekerja normalnya sehari 16jam, dalam sebulan rata-rata ayah bekerja 20hari dan ayah menerima gaji sehari Rp.640.000. Jadi berapa gaji ayah satu bulan? Huahm..."jelas Rahmat dengan sesekali menguap. Ade lalu berlari kecil ke arah meja kerja ayahnya untuk mengambil secarik kertas dan pena, dengan waktu yang tidak terlalu lama, ia sudah mendapatkan hasilnya. "Berarti ayah mendapatkan gaji Rp.12.800.000,- tiap bulan. Itu artinya ayah dibayar Rp.40.000,- untuk satu jam, iya kan Ayah?"tanya Ade pada ayahnya yang sudah tertunduk kepalanya, mungkin tertidur. Rahmat pun segera terperanjat mendengar pertanyaan anaknya. Ia hanya mengiyakan saja pertanyaan anaknya itu.
"Sudah tidur sana, ayah mau istirahat."pinta Rahmat pada anaknya. "Tunggu ayah, satu lagi!"anaknya merajuk. "Ayah, boleh tidak Ade pinjam uang ayah Rp.5.000 saja?" Rahmat agak kesal dengan tingkah anaknya yang menurutnya aneh dan mengganggunya istirahat. "Buat apa Ade minta uang malam-malam seperti ini? Besok kan masih ada waktu. Kalau mau beli mainan besok saja ayah belikan. Ade mau minta mainan apa?" "Tapi Ayah...." Belum sempat Ade menyelesaikan kalimatnya, Rahmat membentaknya dan menyuruhnya segera tidur karena ia sudah sangat lelah. Melihat ayahnya marah, Ade langsung berlari menuju kamarnya.
Beberapa saat setelah anaknya pergi, Rahmat keluar kamar menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Saat itu ia melihat pintu kamar anaknya belum tertutup dan ia hendak menutupnya. Tetapi, semakin dekat ia dengan kamar anaknya, semakin jelas ia mendengar suara tangisan. Ia meyakinkan bahwa itu adalah tangisan anaknya dengan melongok ke dalam kamar itu. Ternyata benar, Rahmat mendapati anaknya sedang duduk memeluk bantal guling di pojok ranjang. Tangannya terlihat menggengam gulungan kertas. Rahmat pun luluh, dan merasa sangat menyesal telah membentak anaknya. Lalu ia masuk dan mendekati anaknya. Saat ia mengusap kepalanya, anak itu tidak merespon sedikitpun. Ade masih tetap menangis tersedu-sedu. "Ade, maafin Ayah ya! Ayah sayang Ade, ayah tidak bermaksud kasar sama Ade. Tadi ayah sangat capek jadi ayah cepat marah. Lagipula, kenapa Ade minta uang malam-malam seperti ini? Kan bisa besok pagi saja sama Ibu?"katanya pelan pada anaknya sambil mengusap-usap kepala dan punggung anaknya. "Tapi, tadi...Hhhh...Ade tidak minta uang Ayah. Hhh..." Ade mulai bersuara masih dengan tersedu-sedu. "Ade cuma pinjam uang ayah, nanti kalau tabungan Ade sudah terkumpul lagi, Ade akan kembalikan uang ayah!"jelasnya.
"Kenapa harus pinjam? Minta pun pasti ayah kasih."tanya Rahmat heran. "Tadi sewaktu Ade buka tabungan Ade jumlahnya cuma Rp.15.000,-."kata Ade sambil menunjukan gulungan uang kertas di tangannya. "Kata Ibu waktu ayah sangat berharga, dan ayah mendapatkan gaji Rp.40.000 satu jamnya, jadi setengah jam Rp.20.000. Uang Ade masih kurang Rp.5000." Rahmat masih belum mengerti penjelasan anaknya. "Ade ingin membayar waktu ayah setengah jam saja untuk main monopoli sama Ade malam ini. Hhhh...." Rahmat sangat terkejut bagai mendengar petir yang meggelegar saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan anaknya itu. Ia telah melupakan anaknya. Ia tidak pernah berfikir betapa anaknya sangat menginginkannya berada di rumah untuk sekedar bercanda dengannya. Selama ini ia hanya berfikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk menghidupi keluarganya. Rahmat tidak sadar bahwa anaknya tidak hanya membutuhkan uangnya, tetapi juga sangat membutuhkan kasih sayang belaiannya.
Rahmat pun segera memeluk Ade erat-erat. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya.
Ia sangat menyesali sikapnya malam itu. Terjawab sudah keanehan sikap anaknya. Akhirya malam itu ia tidur bersama anaknya dan keesokan harinya ia mengambil cuti dari pekerjaanya.
Selama ini ia bekerja tanpa mengenal waktu. Ia berangkat ketika anaknya masih tertidur. Pulang anaknya pun telah tertidur. Jika ada waktu libur, ia memilih untuk lembur sehingga mendapatkan tambahan pendapatan. Tapi, sekarang ia sadar keluarganya pun membutuhkannya berada di sisi mereka, terutama buah hatinya itu. Ia pun berjanji akan membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaannya.
SEKIAN
Semoga cerita ini bisa dijadikan bahan perenungan untuk setiap pembaca, bahwa uang bukanlah segalanya. Kebahagiaan hakikatnya berada di hati bukan di lihat dari jumlah harta yang terkumpul.
Terimakasih

Sabtu, 13 Juni 2009

Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus

Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring. Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.

Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M – 1036 M). Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia.

“Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus,” ungkap Scheppler. Ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan bahwa Abu Nasr Mansur terlahir di kawasan Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia bertarikh 982 M.

Keluarganya “Banu Iraq” menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. “Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik,” tutur O’Cornor dan Robertson.

Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu’l-Wafa (940 M – 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Biruni (973 M – 1048 M).

Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.

Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.

Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.

Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma’mun dan menjadi penasihat Abu’l Abbas Ma’mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses.

Ali ibnu Ma’mun dan Abu’l Abbas Ma’mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.

Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.

Kontribusi Sang Ilmuwan

Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.

Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).

Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.

Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. ” Sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan. Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa,” papar ahli sejarah Matematika John Joseph O’Connor dan Edmund Frederick Robertson
Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.

Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus.

Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).

Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.

“Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus,” jelas O’Cornor dan Robertson.

Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:

a/sin A = b/sin B = c/sin C

“Abu’l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian,” ungkap O’Cornor dan Robertson.

O’Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M – 1000 M).

Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York 1970-1990). “Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis,” katanya.

Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.

Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr

Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru.Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr telah ‘melahirkan’ seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.

Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.
Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.

Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.

Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu.
By: Republika Newsroom

Bacalah!!!

Hobiku adalah membaca, setidaknya itulah salah satu hobiku. Macam-macam tanggapan dari temanku, baik yang baru kenal maupun yang sudah lama mengenalku, saat aku mengucapkannya. Ada dari mereka yang mendukung hobiku ini, namun ada pula yang meledek. Dari yang mendukungku, aku mendapatkan alasan mereka bahwa dari membaca kita bisa mendapatkan informasi yang tidak bisa kita dapatkan dari orang-orang di sekitar kita, kita bisa lebih tahu banyak tentang dunia. Begitulah kata mereka, dan itu aku amin-i. Sedangkan dari teman-teman yang menertawakan atau meledek aku dengan hobi membacaku, mereka bilang aku sok pintar dan sebagainya karena mereka menganggap membaca itu adalah pekerjaan orang-orang pintar. Sementara orang bodoh tidak pantas memiliki hobi membaca. Juga, menurut mereka membaca itu pekerjaan yang membosankan dan membuat mata cepat ngantuk.

Untuk alasan yang terakhir, yaitu bahwa membaca membuat mata cepat mengantuk memang masuk akal dan sering dijumpai pada kebanyakan orang. Itu hanya karena aktivitas ini akan memaksa kerja otot-otot saraf mata untuk bekerja keras secara terus menerus hingga akhirnya otot-otot itu merasa lelah dan butuh untuk diistirahatkan. Sebagai efeknya mata akan merasa mengantuk. Dalam aktivitas apapun yang menggunakan konsentrasi mata secara terus menerus pasti akan membuat orang tersebut merasa mengantuk karena otot-otot mata merasa lelah. Sebagai contoh jika orang bekerja di depan komputer dalam waktu yang lama atau menonton televisi dalam waktu yang cukup lama pun pasti akan merasakan kelelahan pada matanya dan akhirnya ngantuk. Jadi, bukan hanya semata-mata karena membaca maka mata akan menjadi merasa mengantuk. Kalau membacanya hanya sebentar atau isi bacaannya menarik tidak akan membuat mata cepat mengantuk, setidaknya menurutku seperti itu.

Tapi, alasanku untuk menggemari kegiatan yang satu ini adalah pertama, pekerjaan ini tidak begitu memerlukan tenaga alias tidak melelahkan badan, bahkan bisa dilakukan saat kita sedang istirahat. Kedua, aku bisa menggunakan waktu luang aku untuk hal yang bermanfaat, pengatahuanku pun bertambah. Ketiga, membaca itu ibadah. Nah, mungkin bagi yang tidak suka membaca, alasan ketiga ini belum mereka pahami.

Mengapa aku mengatakan bahwa membaca itu ibadah? Bukankah memang semua pekerjaan jika diawali dengan doa dan diniatkan hanya karena Alloh pasti akan menjadi ibadah? Ya, pertanyaan itu memang benar, tapi bukan semata-mata karena itu saja melainkan aku punya alasan sendiri.
Sadarkah anda jika sebenarnya setiap manusia telah diperintah oleh Alloh SWT untuk membaca? Dalam Kitab Al Quran surat Al ‘Alaq, Alloh SWT telah menyuruh kita untuk membaca. Bahkan 5 ayat pertama dari surat itu adalah wahyu yang pertama kali diturunkan ke bumi pada Rosululloh Muhammad saw. dengan perantara Malaikat Jibril.

Coba anda buka kitab terjemahan anda dan baca ayat 1 – 5 surat Al ‘Alaq tersebut. Di sana sampai dua kali Alloh mengulang kata “bacalah!” dan di ayat ke-5 Alloh SWT menjelaskan manfaat dari membaca yaitu manusia akan mengetahui hal yang sebelumnya tidak diketahuinya. Sebagai bukti nyata ayng saat itu langsung terjadi adalah bahwa Rosululloh Untuk lebih jelasnya, berikut ini aku tuliskan terjemahan ayat 1 – 5 dari surat Al ‘Alaq:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Memang ayat-ayat ini diturunkan secara langsung kepada Baginda Rosululloh saw. Saat itu memang yang disuruh membaca adalah beliau. Tapi bukan berarti bahwa ayat itu hanya untuk beliau saja. Kalau memang hanya untuk beliau saja, maka ayat ini tidak akan dimasukkan ke dalam kitab yang harus menjadi pedoman hidup seluruh manusia di dunia. Akan tetapi, ayat itu pun termasuk dalam sekian banyak ayat Al Quran yang memang di peruntukan untuk semua manusia, bukan hanya untuk baginda Rosululloh saw. saja.

Akan tetapi dari penjelasan yang aku uraikan di atas, bukan berarti bahwa aku telah menghukumi suatu masalah sendiri. Aku bukanlah seorang ahli dalm ilmu agama. Dan aku pun bukanlah seorang hafidz, hafal Al Quran. Melainkan aku hanyalah seorang yang sedang belajar ilmu agama dan ingin menyampaikan pendapat. Aku sangat mengharapkan feed back dari pembaca semua dan aku berharap blog ini bisa dijadikan sebuah forum diskusi.

Sementara ini, aku menyimpulkan bahwa ternyata membaca adalah wajib hukumnya karena manusia mendapatkan perintah secara langsung dari Alloh SWT. Dan aku berharap siapapun yang membaca posting ini akan tergugah semangatnya untuk gemar membaca. Apapun itu bahan bacaannya insya Alloh akan menambah berkah asalkan yang tidak bertentangan dengan syariat islam.

Untuk mengakhiri posting kali ini, aku hanya ingin mengajak pembaca semua untuk menjadi seorang lagi yang mendapatkan julukan “kutu buku”.
Bacalah!!!