Seperti hari-hari sebelumnya, Rahmat pulang larut malam hari ini. Tetapi malam ini ia agak terkejut karena saat ia masuk rumahnya, ia mendapati anak tunggalnya, yang masih berusia 6 tahun, masih dalam kondisi terjaga di ruang tamu. Anak itu yang semula duduk di sofa ruang tamu segera bangkit dan berlari menghampirinya. "Kenapa belum tidur?"tanya Rahmat pada anaknya seraya berjongkok dan memegang pundak anaknya dengan kedua tangannya yang terasa pegal. "Ade menunggu ayah pulang."jawab anaknya, terlihat segaris senyum di bibir anak itu.
"Menunggu ayah? Sampai larut malam begini?"Rahmat bertanya heran. "Apa ada yang penting, hemm?"lanjutnya sambil bangkit dari jongkoknya dan segera berjalan menuju kamarnya. Anaknya hanya mengekor di belakangnya.
"Ayah, Ade boleh tanya sesuatu tidak?"tanya anak itu ketika melihat ayahnya sedang melepas pakaiannya yang sudah beraroma keringat. "Hemm???"Rahmat tidak begitu menanggapi anaknya karena ia merasa sangat letih dan ingin segera istirahat. "Ayah, ayah mendapatkan gaji berapa di tempat ayah bekerja?"lanjut Ade sambil duduk di atas kasur empuk di samping ibunya yang sudah tertidur pulas. "Kenapa tiba-tiba Ade menanyakan gaji ayah? Ade mau minta uang?"Rahmat menatap wajah anaknya dalam-dalam. Rahmat menangkap hal yang aneh pada anaknya malam ini. Sebenarnya ia ingin tahu lebih jauh alasan anaknya bersikap aneh malam ini, tetapi ia sudah sangat capek dan yang paling ia inginkan sekarang adalah istirahat. "Sebentar, ayah cuci muka dulu ya!"Rahmat segera berlalu ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Ade tetap menunggu ayahnya yang sedang membersihkan badan di kamar mandi.
Ketika keluar dari kamar mandi, Rahmat melihat anaknya masih duduk di ranjangnya. Ia masih memiliki kesabaran untuk buah hatinya yang sangat ia sayangi itu. Lalu ia menghampiri anaknya dan duduk di sebelahnya. "Baiklah! Ayah sangat capek, jadi tanyanya jangan lama-lama ya!"pintanya sambil mengusap kepala Ade. "Tidak ayah, Ade cuma mau tahu gaji ayah sebulan berapa? Itu saja."jawab Ade sambil menunduk dan pelan-pelan menyandarkan badannya ke badan ayahnya. "Hm...coba Ade hitung sendiri ya, Huahmmm! Ayah bekerja normalnya sehari 16jam, dalam sebulan rata-rata ayah bekerja 20hari dan ayah menerima gaji sehari Rp.640.000. Jadi berapa gaji ayah satu bulan? Huahm..."jelas Rahmat dengan sesekali menguap. Ade lalu berlari kecil ke arah meja kerja ayahnya untuk mengambil secarik kertas dan pena, dengan waktu yang tidak terlalu lama, ia sudah mendapatkan hasilnya. "Berarti ayah mendapatkan gaji Rp.12.800.000,- tiap bulan. Itu artinya ayah dibayar Rp.40.000,- untuk satu jam, iya kan Ayah?"tanya Ade pada ayahnya yang sudah tertunduk kepalanya, mungkin tertidur. Rahmat pun segera terperanjat mendengar pertanyaan anaknya. Ia hanya mengiyakan saja pertanyaan anaknya itu.
"Sudah tidur sana, ayah mau istirahat."pinta Rahmat pada anaknya. "Tunggu ayah, satu lagi!"anaknya merajuk. "Ayah, boleh tidak Ade pinjam uang ayah Rp.5.000 saja?" Rahmat agak kesal dengan tingkah anaknya yang menurutnya aneh dan mengganggunya istirahat. "Buat apa Ade minta uang malam-malam seperti ini? Besok kan masih ada waktu. Kalau mau beli mainan besok saja ayah belikan. Ade mau minta mainan apa?" "Tapi Ayah...." Belum sempat Ade menyelesaikan kalimatnya, Rahmat membentaknya dan menyuruhnya segera tidur karena ia sudah sangat lelah. Melihat ayahnya marah, Ade langsung berlari menuju kamarnya.
Beberapa saat setelah anaknya pergi, Rahmat keluar kamar menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Saat itu ia melihat pintu kamar anaknya belum tertutup dan ia hendak menutupnya. Tetapi, semakin dekat ia dengan kamar anaknya, semakin jelas ia mendengar suara tangisan. Ia meyakinkan bahwa itu adalah tangisan anaknya dengan melongok ke dalam kamar itu. Ternyata benar, Rahmat mendapati anaknya sedang duduk memeluk bantal guling di pojok ranjang. Tangannya terlihat menggengam gulungan kertas. Rahmat pun luluh, dan merasa sangat menyesal telah membentak anaknya. Lalu ia masuk dan mendekati anaknya. Saat ia mengusap kepalanya, anak itu tidak merespon sedikitpun. Ade masih tetap menangis tersedu-sedu. "Ade, maafin Ayah ya! Ayah sayang Ade, ayah tidak bermaksud kasar sama Ade. Tadi ayah sangat capek jadi ayah cepat marah. Lagipula, kenapa Ade minta uang malam-malam seperti ini? Kan bisa besok pagi saja sama Ibu?"katanya pelan pada anaknya sambil mengusap-usap kepala dan punggung anaknya. "Tapi, tadi...Hhhh...Ade tidak minta uang Ayah. Hhh..." Ade mulai bersuara masih dengan tersedu-sedu. "Ade cuma pinjam uang ayah, nanti kalau tabungan Ade sudah terkumpul lagi, Ade akan kembalikan uang ayah!"jelasnya.
"Kenapa harus pinjam? Minta pun pasti ayah kasih."tanya Rahmat heran. "Tadi sewaktu Ade buka tabungan Ade jumlahnya cuma Rp.15.000,-."kata Ade sambil menunjukan gulungan uang kertas di tangannya. "Kata Ibu waktu ayah sangat berharga, dan ayah mendapatkan gaji Rp.40.000 satu jamnya, jadi setengah jam Rp.20.000. Uang Ade masih kurang Rp.5000." Rahmat masih belum mengerti penjelasan anaknya. "Ade ingin membayar waktu ayah setengah jam saja untuk main monopoli sama Ade malam ini. Hhhh...." Rahmat sangat terkejut bagai mendengar petir yang meggelegar saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan anaknya itu. Ia telah melupakan anaknya. Ia tidak pernah berfikir betapa anaknya sangat menginginkannya berada di rumah untuk sekedar bercanda dengannya. Selama ini ia hanya berfikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk menghidupi keluarganya. Rahmat tidak sadar bahwa anaknya tidak hanya membutuhkan uangnya, tetapi juga sangat membutuhkan kasih sayang belaiannya.
Rahmat pun segera memeluk Ade erat-erat. Air matanya mengalir deras di kedua pipinya.
Ia sangat menyesali sikapnya malam itu. Terjawab sudah keanehan sikap anaknya. Akhirya malam itu ia tidur bersama anaknya dan keesokan harinya ia mengambil cuti dari pekerjaanya.
Selama ini ia bekerja tanpa mengenal waktu. Ia berangkat ketika anaknya masih tertidur. Pulang anaknya pun telah tertidur. Jika ada waktu libur, ia memilih untuk lembur sehingga mendapatkan tambahan pendapatan. Tapi, sekarang ia sadar keluarganya pun membutuhkannya berada di sisi mereka, terutama buah hatinya itu. Ia pun berjanji akan membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaannya.
SEKIAN
Semoga cerita ini bisa dijadikan bahan perenungan untuk setiap pembaca, bahwa uang bukanlah segalanya. Kebahagiaan hakikatnya berada di hati bukan di lihat dari jumlah harta yang terkumpul.
Terimakasih
