Lepas dari pantas atau tidak pantas, apakah pernah terbersit dalam pikiran mereka bahwa sebenarnya kalau mereka mengkonsumsi rokok, maka manfaat atau mudhorotkah yang mereka dapatkan?
Dari beberapa orang yang saya tanya, ini bukan penelitian karena saya bukan seorang peneliti dan saya tidak memilih orang itu perokok atau bukan perokok, ada yang menjawab merokok dapat menghilangkan stress, lapar (karena ada yang mengatakan “lebih baik tidak makan dalam sehari dari pada tidak merokok”). Ketika saya tanyakan kerugian dari merokok pada orang yang sama, saya mendapatkan beberapa jawaban, antara lain, menyebabkan penyakit yang jenisnya dapat dibaca disetiap bungkus rokok, boros, ketagihan, membuat warna bibir dan gusi jadi hitam, dan beberapa jawaban yang lain. Tapi anehnya beberapa orang perokok sudah tahu efek negatif dari rokok, tetapi tetap saja menghisap asap beracun itu seolah mereka tidak tahu dan tidak dengar apa yang mereka katakan sendiri. Berbagai alasan juga mereka ucapkan untuk menghalalkan dan mendapatkan ke-sah-an merokok.
Sebelum ke masalah inti, saya ingin menceritakan pengalaman saya terlebih dahulu. Sekali lagi sebagai orang biasa yang bukan pakar apapun, saya memutuskan untuk tidak merokok. Jujur saja, saya pun pernah menghisap batang beracun itu. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 sekolah lanjutan pertama. Saat mementaskan rebana di sebuah acara hajatan, saya disuguhi batang rokok kretek yang di tempatkan di dalam gelas. Beberapa teman saya langsung mengambilnya satu-satu dan menghisap batang rokok itu. Terdorong rasa penasaran saya pun mengambilnya. Awalnya teman-teman saya heran dan menertawakan saya karena mengira bahwa saya cuma pura-pura saja. Tapi, saat saya menyalakan korek api dan membakar rokok yang sudah saya letakan di bibir, mereka pun memperhatikan saya tanpa ada suara. Saat itu saya bisa menghisap rokok tanpa terbatuk-batuk seperti umumnya perokok pemula. Tapi, samapai rokok tersebut habis, saya sama sekali tidak merasakan hal yang istimewa dari menghisap rokok itu. Dan saya tidak langsung berubah jadi seorang perokok. Bukan karena seandainya orang tua saya tahu saya akan kena marah, bukan karena itu, tetapi karena saya tidak merasa mendapatkan manfaat dari merokok. Kemudian pada kesempatan yang lain, pada acara silaturahmi keluarga salah seorang teman, saya diundang untuk memainkan pentas rebana lagi. Lagi-lagi, grup rebana saya yang terdiri dari anak-anak SMP disuguhi rokok, kali ini rokok yang disuguhkan adalah rokok filter. Saat itu saya tidak merasa tertarik untuk mengambilnya, tapi teman saya mengambilkannya untuk saya dan meminta saya untuk mencobanya dan saya pun mencobanya. Apa yang saya rasakan saat itu adalah sama dengan pengalaman pertama saya. Saya pun semakin meyakinkan pada diri saya sendiri bahwa merokok sama sekali tidak memberikan manfaat untuk saya. Dan itulah 2 batang rokok yang saya hisap sepanjang hidup.
Akhirnya sampai pada hari ulang tahun saya yang ke-17, saya mengundang teman2 grup nasyid ke acara syukuran kecil-kecilan yang saya adakan di rumah. Saat itu salah satu teman perempuan memberi saya kado sebuah buku kecil, yang sangat berharga buat saya. Terimakasih Mbak kadonya! Buku itu berisi tentang penjelasan kerugian dari merokok, di pandang dari segi agama, sejak saya membaca buku itu semakin yakin bahwa pilihan saya untuk tidak merokok adalah pilihan yang tepat.
Banyak dijelaskan tentang kerugian mengkonsumsi rokok di lihat dari beberapa sisi, berikut ini saya ingin berbagi cerita dan ulasan hanya beberapa hal saja diantaranya adalah:
1. Dari sisi Ekonomi merokok merupakan suatu Pemborosan
Mengkonsumsi rokok adalah suatu pemborosan yang sangat besar. Hal ini tidaklah dapat dielakkan lagi. Membeli rokok bisa dikatakan membakar uang. Apa namanya kalau bukan pemborosan, bahkan pemborosan yang sia-sia, jika anda mengeluarkan uang hanya untuk membeli benda yang akhirnya dibakar dan tidak memberikan manfaat apapun pada diri anda. Walaupun anda bisa beralasan bahwa dengan merokok dapat menghilangkan stress yang anda derita. Tapi menurut saya alasan itu adalah alasan yang sangat klise atau mengada-ada. Seandainya memang untuk menghilangkan stress, anda bisa melakukan hal lain yang lebih bermanfaat dan mungkin akan mengeluarkan biaya yang lebih kecil, sebagai contoh dengan berolahraga. Bisa jogging, sepeda santai atau ke gym fitness center, atau yang bisa anda lakukan tiap waktu dan di manapun dengan waktu yang singkat misalnya push-up atau shit-up, hal ini bisa anda lakukan di tempat kerja. Kalaupun uang yang anda keluarkan sama jumlahnya atau bahan lebih besar hal itu sudah benar-benar memberikan manfaat bagi tubuh anda.
Sekarang mari kita bandingkan bersama biaya yang di keluarkan untuk rokok dan untuk olah raga di Gym misalnya. Pertama kita hitung pengeluaran untuk merokok. Jika untuk sebatang rokok harganya adalah Rp.500,- dan anda rata-rata sehari menghabiskan 1 bungkus rokok (12 batang), maka sehari anda mengeluarkan uang 12 x Rp.500 = Rp.6000,-. Jika 1bulan adalah 30 hari, maka untuk membeli rokok anda akan mengeluarkan uang sebanyak 30 x Rp.6000 = Rp.180.000,-
Dalam sebulan uang belanja keluarga anda akan terpotong Rp.180.000,- jumlah yang banyak untuk yang berpenghasilan pas-pasan. Untuk yang berpenghasilan tinggi pun tidaklah sedikit jika hanya untuk hal yang sia-sia.
Coba kita hitung berapa rupiah dalam setahun anda membakar uang yang anda dapatkan dengan mengorbankan keringat dan pikiran anda. Rp.500,- x 12 x 30 x 12 = Rp.2.160.000,-.
Kedua untuk gym, biasanya untuk gym sistem pembayarannya adalah bulanan. Biaya yang diekuarkan untuk gym sangatlah tergantung dari tempatnya. Semakin lengkap fasilitas yang disediakan maka otmatis harganya makin mahal. Tapi, jika tidak benar-benar untuk jadi seorang olahragawan anda bisa memilih yang cukup saja atau medium class, tidak perlu yang high class. Menurut pengetahuan saya untuk medium class anda cukup mengeluarkan biaya Rp.70.000 – Rp. 100.000. Mari kita ambil titik atasnya, Rp.100.000/bulan. Sudah kita dapatkan nilai selama sebulan, jadi untuk setahun anda mengeluarkan uang sebanyak Rp.100.00 x 12 = Rp.1.200.000,-
Sekarang kita bisa menghitung selisihnya antara rokok dan olahraga, untuk rokok Rp. 2.160.000/tahun – untuk olahraga Rp.1.200.000/tahun = Rp.960.000. Lihat, anda bisa menghemat uang yang cukup besar jika mengganti kebiasaan merokok anda dengan olahraga.
Pasti diantara pembaca ada yang mengatakan, untuk fitness kan memerlukan suplemen ini dan itu yang harganya pun lumayan mahal. Pernyataan itu akan segera saya komentari bahwa fitness tidak selamanya harus mengkonsumsi suplement, anda bisa saja tidak mengkonsumsinya, jika anda terbiasa minum susu atau makan dengan teratur tiap hari, itu sudah cukup. Lagi pula jika anda memang menginginkan kesehatan, akan sangat lebih tepat jika anda menghindari rokok. Yang paling penting asupan bahan pemebentuk energi dalam tubuh seimbang dengan aktivitasnya.
Dari perhitungan di atas baru kita dapatkan pengeluaran untuk satu orang. Jika di Indonesia yang jumlah penduduknya sekitar 200juta orang lebih ini, 30% dari jumlah penduduknya adalah perokok, maka setiap tahun Indonesia akan membakar uang sebanyak 30% x 200.000.000 x Rp.2.160.000 = Rp.129.600.000.000.000,-
Bayangkan! Pendapatan penduduk Indonesia akan dibakar sebanyak Rp.129,6 trilyun/tahun, ini jika di hitung jumlah penduduk Indonesia tepat 200juta orang.
Seandainya semua perokok tadi berhenti dari kebiasaan buruknya itu dan menyimpan uangnya di bank atau di alokasikan untuk pembangunan, kemungkinan besar Indonesia sudah lebih maju daripada sekarang.
Dilihat dari mana pun yang namanya pemborosan tidaklah memberikan dampak positip. Selain itu Alloh telah melarang untuk berbuat boros. Di firmankan-Nya dalam Al Quran surat Al Asraa ayat 26 – 27, sebagai berikut:

Sebagai orang yang beriman tentulah tidak bersedia untuk menjadi saudara syaitan karena sesungguhnya syaitan itu benar-benar nyata musuh bagi manusia.
2. Dari sisi kesehatan, rokok Menyebabkan Penyakit
Untuk hal ini saya memang belum pernah menanyakan langsung pada ahlinya atau bahkan melakukan survei sendiri. Tetapi jelas di setiap bungkus rokok saja telah dicantumkan bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit yang membahayakan kesehatan. Saya sangat percaya dengan peringatan itu.
Sebagai bukti kecil yang membuat saya percaya bahwa rokok membahayakan kesehatan semua orang yang menghisap asapnya, bukan hanya perokoknya melainkan orang-orang yang berada di sekitarnya juga, yaitu pengalaman saya sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu, sepupu saya yang duduk di bangku kelas 4 SD, dua tahun di bawah saya menunjukan percobaan yang baru saja ia terima di sekolah bahwa asap rokok dapat menimbulkan flex pada kertas, kain, bahkan telapak tangannya. Dia membakar sebatang puntung rokok yang ia ambil dari asbak, kemudian dengan tangan yang satunya ia pegang selembar kertas polos putih sehingga asap yang mengepul dari rokok tersebut mengenai kertas yang ia pegang tadi. Setelah menunggu beberapa lama ia tunjukan daerah kertas yang terkena asap tadi, ternyata warnanya agak kuning kecokelatan. Kemudian ia melakukan percobaan yang sama dengan menggunakan bahan kain dan yang terakhir menggunakan telapak tangannya. Sebelum menggunakan telapak tangannya, terlebih dahulu ia basahi telapak tangannya dan membiarkannya lembab (tidak basah dan tidak kering) ternyata telapak tangannya pun berubah warna, dan terdapat noda agak gelap. Sementara untuk kertas dan kain jika dalam keadaan lembab pun akan semakin cepat flex-nya muncul.
Pada waktu itu kami berdua belum paham bahwa yang flex tersebut mengandung senyawa nicotine.
Dari artikel yang pernah saya baca, say mendapatkan pengetahuan bahwa Nicotine adalah senyawa higroskopis. Senyawa ini dapat menyatu dengan air dalam bentuk dasarnya. Nicotine mudah meresap kedalam kulit. Free base nicotine akan terbakar pada suhu dibawah titik didihnya dan uapnya akan terbakar pada suhu 35°C dalam udara dengan tekanan uap rendah. Jika nicotine masuk ke dalam tubuh, senyawa ini akan tersebar secara cepat ke dalam aliran darah dan dapat menghambat aliran darah di dalam otak. Rata-rata nicotine memerlukan waktu hanya 7 detik untuk sampai ke otak ketika terhirup. Dan sebenarnya Nicotine ini di gunakan di bidang kesehatan, untuk lebih jelasnya bisa di tanyakan pada ahlinya.
Selain itu dari percobaan yang saya lakukan waktu kecil di atas, karena saya orang bodoh jadi saya bandingkan dengan apa yang terjadi sehari-hari di dapur tempat tinggal saya. Dimana orang tua saya masih menggunakan tungku dan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Saat memasak akan mengeluarkan asap. Hal ini terjadi setiap hari, setidaknya sehari sekali. Saya perhatikan atap rumah yang tepat berada di atasnya, yang setiap kali ibu masak atap itu terkena asapnya semakin lama semakin menghitam, dan jika tersentuh akan meninggalkan noda hitam di tangan. Noda itu disebut jelaga, begitu banyak orang menyebutnya. Nah, bandingannya dengan percobaan itu, jika orang menghisap asap rokok setiap hari bukan tidak mungkin lagi paru-paru yang merupakan organ pernafasan utama manusia yang memiliki saluran dengan hidung dan mulut itu akan bernasib sama seperti atap rumah di atas tungku kami.
Setahu saya paru-paru itu untuk menyaring dan menangkap oksigen dari udara yang kita hirup. Jika paru-paru kita sudah kotor bagaimana bisa menyaring dan menangkap oksigen yang diperlukan tubuh manusia untuk melakukan pembakaran dalam pembentukan energi untuk tubuh? Terus bagaimana caranya untuk membersihkan paru-paru itu? Sementara ia ada di dalam dada kita yang terlindungi tulang rusuk. Selain itu jika ada metrial asing yang tersimpan dalam tubuh, sistem imun dalam tubuh kita akan memberikan vaksin otomatis, dan jika hal ini terjadi secara terus menerus yang terjadi pada tubuh kita bukan menjadi sehat malah akan sebaliknya, vaksin-vaksin itu akan memakan tubuh kita. Penyakit ini yang disebut juga dengan kanker.
3. Dari sisi religi
Kalau membahas rokok dari segi agama ini saya tidak ingin panjang lebar. Terdapat dua pendapat yang berbeda di kalangan para ulama. Yang pertama berpendapat bahwa merokok itu haram, dan yang kedua mengatakan bahwa merokok itu tidak diharamkan. Kedua pendapat itu sudah pasti ada alasannya masing-masing dan itu pasti kuat karena para ulama yang mengeluarkan pendapat itu sudah pasti memiliki dasar yang kuat.
Saya sendiri sampai saat ini belum menemukan dalil atau dasr yang dengan jelas menyebutkan merokok itu haram. Sebagai perbandingan dalam Al Quran dengan jelas disebutkan haramnya khamr, bahkan ada di beberapa ayat, misalnya:

Saya bukan seorang ahli tafsir Al Quran atau seorang hafidz, bahkan membaca huruf hijaiyah pun saya masih belajar, tapi selama ini belum saya dapatkan dalil yang sangat kuat bahwa rokok itu haram.
Tapi bukan berarti saya lantas menghalalkan merokok, karena saya juga tidak menemukan dasar yang menghalalkan rokok.
Dalam hal ini saya mengambil keputusan bahwa rokok itu berada di antara halal dan haram, alias hal yang subhat. Saya bukan ahli bahasa yang bisa mengartikan arti kata subhat, tapi saya hanya mendapat istilah itu dari buku dan dari ustadz yang mengajar saya. Dari yang saya dapat, hal subhat adalah hal yang ragu, atau berada di antara dua hal yang jelas. Nah, merokok itu adalah hal yang masuk kategori subhat karena tidak haram dan tidak halal.
Lantas bagaimana saya menyikapi hal subhat ini?
Saya pernah mebaca sebuah hadits pada sebuah buku “Al-Ma’tsurat & HADITS ARBA’IN, HASAN AL-BANA – IMAM NAWAWI, terbitan Gema Insani Pers”. Berikut saya tuliskan artinya: “An-Nu’man Bin Basyir berkata:”Saya mendengar Rosululloh saw. bersabda (sementara An-Nu’man tengah memasukkan jari-jarinya ke telinganya), ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya adalah hal yang syubhat (samar) yang tidak banyak diketahui oleh manusia. Maka barang siapa yang menjaga diri dari yang syubhat tersebut, dia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa terperosok dalam perkara syubhat, maka dia telah terperangkap dalam hal yang haram, ibarat penggembala yang menggembala di padang rumput terlarang, bersuka ria di pinggir perbatasannya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan, dan ketahuilah bahwa larangan Alloh adalah hal-hal yang diharamkan-Nya.Ketahuilah bahwa dalam jasad manusia ada segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh jasad tersebut. Namun, apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad tersebut. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. MUSLIM)
Dari hadits di atas saya menangkap peringatan keras dari Rosululloh saw. bahwa jangan pernah kita sebagai umatnya mencoba melakukan hal-hal yang syubhat, termasuk merokok, karena bila kita melakukannya, itu artinya kita terperosok dalam hal syubhat, dan dalam hadits tersebut Rosululloh saw. mengatakan bahwa orang yang terperosok dalam perkara syubhat maka dia telah terperangkap dalam hal yang haram. Bukan hanya “akan terperangkap dengan mudah” melainkan “telah terperangkap”. Jadi, jika kita menginginkan untuk menjadi seorang muslim yang baik dan tidak menginginkan terperangkap hal yang haram, maka kita harus menghindari juga hal-hal yang syubhat. Karena kita sudah tahu bahaya dari melakukan hal-hal yang tidak haram dan tidak juga halal, alias syubhat. Salah satunya adalah merokok.
Sebenarnya masih ada beberapa atau mungkin banyak kerugian dari merokok yang belum bisa saya jelaskan. Tetapi, saya rasa sudah terlalu panjang saya menjelaskan hal ini, saya khawatir saya akan semakin banyak menuliskan hal-hal yang kurang tepat bila saya menulis lebih banyak lagi.
Untuk mengakhiri artikel ini, saya hanya ingin menekankan lagi bahwa merokok memiliki dampak buruk yang sangat luas, bukan hanya bagi perokok tapi bagi seluruh isi bumi, maka hindarilah! Lebih baik mencegah daripada mengobati atau memperbaiki.
Saya sangat berharap semoga tulisan saya ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca. Saya sadar bahwa saya adalah makhluk lemah yang tidak bisa lepas dari berbuat salah, dan saya yakin dalam penulisan artikel ini terdapat hal-hal yang kurang tepat, maka saya harapkan para pembaca dapat memakluminya dan bersedia memberikan saran atau kritikan yang membangun untuk perbaikan ke depannya.
Kebenaran datang hanya dari ALLOH SWT dan kesalahan adalah murni karena saya manusia.
Terimakasih!
Wassalammu’alaikum!
_PARYADI_
