Di sebuah lembah yang subur dan hijau, ditepi sebuah hutan, berdiri sebuah bangunan mungil tapi sangat asri di pandang mata. Bangunan itu dihuni oleh dua orang, tuan dan asistennya. Tuan pemilik rumah sederhana itu adalah mantan seorang jenderal yang sudah berusia lanjut, tetapi masih memilki perawakan yang gagah dan tetap segar. Ia di temani seorang pemuda usia 20an, yang mengabdi padanya sejak Sang Jenderal pensiun dari tugasnya.
Sang Jendral memiliki kegemaran berburu ke hutan yang berada tepat di belakang rumahnya itu. Dia selalu berangkat berburu ketika matahari mulai naik sepenggalah tingginya. Kebiasaan itu di lakukan setiap hari untuk mengisi masa tuanya. Katanya sih...untuk refreshing dan olah raga.
Karena sudah terbiasa hidup di dunia militer, Sang Jenderal pun membawa kepribadiannya yang sangat disiplin dalam segala hal pada kehidupannya sehari-hari. Namun, hal itu membuat asistennya yang memiliki watak pemalas merasa berat dalam melakukan pekerjaanya setiap harinya. Namun demikian dia tidak pernah sedikitpun berniat untuk meninggalkan Sang Jenderal pergi karena hanya Sang Jenderal sajalah yang mau dengan sabar menerimanya sebagai anggota keluarganya, sementara keluarga asli dari pemuda itu pun sudah tak sudi lagi menerimanya.
Suatu hari, seperti biasa setelah melakukan rutinitas paginya, dari bangun tidur, mandi, sholat subuh, dzikir, tadarus, relaksasi otot, terus sarapan pagi, Sang Jenderal membuka email dengan notebooknya sambil menunggu waktu untuk pergi berburu. Pagi itu Sang Jenderal tidak begitu memperhatikan dan mengawasi kegiatan asistennya. Sementara sang asisten yang merasa dirinya tidak begitu diawasi mengambil kesempatan itu untuk bermalas-malasan. Setelah meletakan secangkir susu hangat di meja kerja Sang Jenderal, dia langsung pergi ke teras depan untuk tiduran di atas dipan. Ia pikir, tuannya tidak akan melihatnya karena ia sudah menyiapkan semua perlengkapan berburunya di dalam mobil tuannya. Ia langsung terlelap ke alam mimpi.
Ternyata sang pemuda melupakan satu hal, yaitu membersihkan sepatu boot yang b iasa dipakai Sang Jenderal untuk berburu. Saat sang Jenderal akan berangkat, ia mendapati sepatu bootnya masih dalam keadaan kotor penuh dengan lumpur kering. Dengan hati yang agak kesal tapi tetap sabar, ia segera menuju teras depan, karena ia tahu pasti asistennya sedang asyik di sana. Ketika ia melihat asistennya sedang tertidur, dengan lembut ia goyang badannya untuk membangunkannya.
"Jhon! Bangun, masih pagi kog tidur lagi si? Tidak baik untuk kesehatanmu! Ayo bangun!" Mendengar perintah tuannya yang sangt lembut itu, tidak membuat pemuda itu segera bangkit.
Ia hanya membuka matanya sedikit lallu menutupnya lagi sambil bergumam.
"Mmmm...aku masih ngantuk sekali Kek!"jawabnya, ia terbiasa memanggil Sang Jenderal dengan sebutan Kakek.
"Tapi kamu lupa satu pekerjaanmu!"kata Sang Jenderal sambil meletakan pantatnya di samping badan Jhon, asistennya.
"Lupa apa Kek? Semuanya sudah aku siapkan di mobil, tidak satupun tertinggal!"akhirnya dengan terpaksa pemuda itu mengangkat tubuhnya untuk duduk.
"Kamu lupa membersihkan sepatu Kakek! Ini kan kerjaanmu tiap hari, kenapa bisa lupa? Masa tiap hari Kakekmu yang sudah tua ini harus mengingatkanmu?"jelas Sang Jenderal sambil meletakan sepatu bootnya di depan kaki Jhon.
"Ah, Kakek! itu memang sengaja tidak aku bersihkan Kek! Lagi pula sia-sia kan walaupun aku bersihkan juga. Toh akhirnya pasti akan kotor lagi setelah kakek pakai berburu lagi, jadi mending tidak usah di bersihkan saja."jawab Jhon pada Sang Jenderal.
"Oh...benarkah demikian? Baiklah, kalau memang sia-sia ya sudah kakek pakai sepatu kotor ini untuk berburu."walaupun Sang Jenderal tidak marah dan seolah setuju dengan kalimat yang di ucapkan asistennya, dalam hati ia telah mempunyai rencana untuk membuat Jhon tidak lagi mempunyai pikiran yang sama lain waktu.
Setelah percakapan itu Sang Jenderal lau pergi berburu. kali ini ia tidak pulang saat waktu dzuhur, tetapi ia sengaja pergi ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang telah habis. Saat akan membeli persediaan bahan makanan, ia teringat pada rencananya untuk Jhon. Akhirnya ia urungkan niatnya belanja. Sang Jenderal akhirnya pergi ke sebuah warung makan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Setalah makan dan sholat, Sang Jenderal sempatkan untuk jalan-jalan keliling kota samapi sore. Setelah ia merasa bahwa waktunya untuk pulang, ia mampir lagi ke sebuah warung Padang untuk membeli makan untuk Jhon.
Sementara itu, Jhon yang di tinggal berburu oleh Sang Jenderal baru sadar kalau di Lemari es sudah tidak ada lagi persediaan makanan. Karena malas mencari bahan makanan di pinggiranhutan, ia putuskan untuk menunggu Tuannya. Ia pikir Sang Jenderal pasti tahu bahwa persediaan makanan di rumah telah habis. Pasti sang Jenderal akan segera pulang dengan membawa kebutuhan dapur dan hasil perburuannya.
Lama Jhon menunggu, ketika ia lirik jam diinding tua yang tergantung di ruang tamu, ia sadar tenyata sudah lewat dari waktunya makan siang. Perutnya sudah sangat perih karena lapar, sementara yang tersisa hanya iar mineral di galon saja. Sepotong biskuit pun tidak ada. Pemuda itu sangat tersiksa dan gelisah, sebentar-sebentar, ia ke belakang rumah memastikan bahwa Sang Jenderal sudah pulang, tetapi selalu saja kecewa. "Aduh...perutku sudah perih sekali, tapi kenapa Kakek belum pulang juga ya? mana HPku tidak ada pulsa lagi!"rintih pemuda itu sambil memegangi perutnya.
Sampai sore perut Jhon tidak mendapatkan makana sedikitpun kecuali air mineral saja yang masuk dan itu tidak menghilangkan rasa lapar yang amat sangat yang di derita Jhon.
Ketika matahari hampir tenggelam Jhon mendengar suara derum mobil tuannya. Ia langsung bangkit dan menjemput tuannya dengan harapan bahwa tuannya akan membawa makanan, setidaknya bahan makanan. Tapi, saat tuannya turun dari mobil, ia tidak melihat sepotong rotipun untuk bisa mengisi perutnya. Dan ia pun tidak melihat hasil buruan yang biasanya pasti di bawa pulang oleh tuannya.
"Kek, mana hasil buruannya? Dan kita sudah tidak punya bahan makanan lagi di dapur Kek. Kog kakek pulang dengan tangan kosong?"tanaya Jhon pada tuannya.
"Memangnya kamu pengin makan? Tadi kakek cuma dapat seekor kelinci, sudah kakek bakar di hutan untuk makan siang kakek. lalu kakek ke kota cuma untuk jalan-jalan dan ya...jajan sedikit makanan lah... Sekali-sekali kakek pengin makan masakan orang lain, yang bukan masakanmu."jawab Snag Jenderal seolah tidak tahu bahwa Jhon sangt kelaparan.
"Kakek ke kota dan makan di kota tanpa membeli sesuatu pun untuk aku Kek? Aku menunggu kakaek seharian dengan perut kosong dan sangat lapar! Kakek benar-benar tega."keluh pemuda itu dan mulai menangis!
"Lho, bukannya kamu yang ngajari kakek untuk berpikiran hukum sia-siamu itu?"tanya San Jenderal.
"Apa maksud kakek? Mengajari apa? Hukum sia-sia?"Jhon masih belum tahu kemana arah pembicaraan Sang Jenderal.
"Tadi pagi kamu bilang sepatu boot yang kotor akan sia-sia kalau di bersihkan karena akan dipakai lagi dan pasti kotor lagi, iya kan?"tanpa menunggu jawaban asistennya, Sang Jenderal melanjutkan,"Jadi kakek pikir sama juga hukumnya akan sia-sia kalau kamu makan saat lapar, karena nanti juga pasti aka lapar lagi, jadi biarkan saja lapar tidak perlu makan, bukan begitu?"Sang Jenderal tersenyum melihat perubahan mimik wajah Jhon.
"Kek...maafin Jhon kek! Jhon memang malas, tapi sekarang aku sangat lapar Kek! aku janji aku akn latihan untuk tidak malas Kek!"Jhon menangis menyesali sikapnya.
Akhirnya Snag Jenderal mengeluarkan isi tasnya yang berupa makanan untuk Jhon, yang sudah berjanji akan mengubah sikapnya.
Malam itu menjadi malam yang sangat berharga bagi Jhon, karena ia menemukan pelajaran hidup dari orang yang sangat baik.
Jhon sadar perbuatan malas sangatlah buruk akibatnya.
Rutinitas yang bermanfaat bukan hal yang sia-sia!
Seperti makan untuk mengisi perut yang pasti akan merasa lapar lagi suatu saat nanti!
Selasa, 07 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar